POJOKBOGOR.ID - Di tengah maraknya kuliner modern dan sarapan instan, beberapa sarapan khas Bogor perlahan mulai menghilang.
Padahal, menu-menu ini pernah menjadi bagian dari rutinitas pagi warga sebelum berangkat bekerja atau ke sekolah.
Kini, sarapan khas tersebut hanya bertahan di beberapa sudut kota.
Baca Juga: 7 Menu Sarapan Paling Diburu di Bogor Saat Akhir Pekan, Datang Siang Bisa Kehabisan
Penjualnya pun kebanyakan sudah lanjut usia, tetap berjualan demi menjaga tradisi dan pelanggan setia.
Doclang, Ikon Sarapan Pagi Bogor yang Kian Jarang
Doclang menjadi salah satu kuliner sarapan khas Bogor yang mulai sulit ditemukan.
Terbuat dari lontong, tahu, telur, kentang, dan disiram bumbu kacang, doclang dulu mudah dijumpai di pagi hari.
Baca Juga: Mall-Mall Baru Bermunculan, Bogor Alami Perubahan Wajah Kota yang Signifikan
Namun kini, jumlah penjual doclang semakin berkurang.
Beberapa lokasi bahkan hanya buka di hari tertentu.
Meski begitu, pembelinya tetap setia, terutama warga lama dan wisatawan yang sengaja mencarinya.
Laksa Bogor, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Laksa Bogor juga termasuk sarapan khas yang mulai langka.
Baca Juga: Bubur Ayam Legendaris di Bogor Ini Selalu Habis Sebelum Jam 9 Pagi, Pembeli Rela Antre
Kuahnya yang kaya rempah, dipadukan dengan bihun, tauge, telur, dan oncom, menjadikan laksa berbeda dari laksa daerah lain.
Tidak semua generasi muda familiar dengan laksa Bogor.
Inilah yang membuat penjualnya semakin sedikit.
Namun di beberapa kawasan, laksa masih bertahan sebagai menu sarapan pagi.
Bubur Ase dan Menu Pagi Tradisional Lainnya
Selain doclang dan laksa, beberapa menu sarapan tradisional Bogor lainnya juga mulai jarang ditemui.
Bubur ase, misalnya, kini hanya dijual di tempat tertentu dan tidak setiap hari.
Baca Juga: Hotel Murah di Bogor tapi Fasilitasnya Lengkap, Ada Kolam Renang hingga View Alam
Menu-menu ini membutuhkan proses pembuatan yang cukup rumit dan bahan khusus, sehingga tidak banyak yang meneruskan usaha tersebut.
Penjual Bertahan karena Pelanggan Setia
Sebagian besar penjual sarapan khas Bogor yang masih bertahan mengaku tidak berorientasi pada keuntungan besar.
Mereka berjualan karena sudah menjadi kebiasaan puluhan tahun.
Baca Juga: Ramai dan Viral, Mall di Bogor Jadi Magnet Baru Anak Muda dan Keluarga
“Kalau tidak jualan, rasanya ada yang kurang,” ujar salah satu penjual yang sudah berjualan sejak muda.
Pelanggan pun datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bernostalgia.
Tergerus Kuliner Modern
Masuknya kuliner modern dan perubahan gaya hidup membuat sarapan tradisional kalah bersaing.
Baca Juga: Seblak Legendaris di Bogor yang Tak Pernah Sepi, Favorit Warga Lokal Sejak Lama
Banyak orang kini memilih makanan praktis atau membeli sarapan di tempat kekinian.
Akibatnya, regenerasi penjual sarapan khas Bogor terhambat. Anak muda lebih memilih usaha lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Nilai Budaya yang Perlu Dijaga
Sarapan khas Bogor bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas kota.
Dari cara penyajian hingga rasa, semua menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat Bogor tempo dulu.
Baca Juga: Ramai dan Viral, Mall di Bogor Jadi Magnet Baru Anak Muda dan Keluarga
Jika tidak dijaga, bukan tidak mungkin menu-menu ini hanya tinggal cerita.
Harapan di Tengah Kelangkaan
Meski mulai langka, masih ada harapan.
Ketertarikan wisatawan terhadap kuliner tradisional menjadi peluang agar sarapan khas Bogor tetap hidup.
Dukungan masyarakat dan promosi yang tepat bisa menjadi kunci agar kuliner sarapan ini tidak benar-benar punah.***

