POJOKBOGOR.id - Pemilihan walikota Bogor mulai terasa panas. Sejumlah tim pemenangan tak hanya keras di media sosial, tapi juga sampai adu fisik.
Dua keributan fisik tim pemenangan terekam sejak kampanye Pilwalkot. Pertama saat pengundian nomor urut calon walikota pada 23 September 2024 di Braja Mustika Kedua, terjadi saat Debat Calon Walikota yang diselenggarakan Radar Bogor pada Sabtu, 5 Oktober 2024.
Menghangatnya kontestasi pemilihan walikota, Dokter Rayendra selalu mengingatkan timnya untuk selalu santai.
"Santai saja. Jangan mudah terpancing. Jangan pernah membuat hoaks juga, Alhamdulillah kami selalu mampu menjaga perdamaian dan patuh pada setiap peraturan KPU dan Bawaslu," kata Dokter Rayendra.
Tim pemenangan Dokter Rayendra dianggap menjadi satu-satunya paslon yang selalu tertib dan patuh selama tahapan Pilkada.
Dokter Rayendra sejak awal selalu menguatkan timnya untuk menjalankan proses demokrasi dengan asyik. Paling penting, gagasan dan program sampai ke masyarakat tanpa menjatuhkan dan menjelekkan lawan.
Barisan ulama di belakang Dokter Rayendra-Eka Maulana juga sepakat untuk selalu kampanye damai. Mereka terus mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan.
KH Muhyiddin Junaidi, ulama sepuh yang mendunia dan kini berada di barisan Dokter Rayendra-Eka Maulana, mengingatkan di depan tim pemenangan untuk menghindari berita hoaks dan isu SARA.
"Mari sebarkan kebaikan, bukan kebohongan. Informasi yang benar adalah kunci hidup sehat dan damai," kata KH Muhyidin.
Menurutnya, kesehatan bukan hanya soal fisik, tapi juga mental dan sosial. Salah satu cara menjaga kesehatan sosial adalah dengan menghindari penyebaran kabar bohong atau hoaks.
"Hoaks dapat memecah belah persatuan dan menimbulkan konflik. Isu SARA juga sangat berbahaya karena dapat memicu permusuhan dan kebencian," kata Muhyidin.
KH Muhyidin juga mengajak Pilkada sebagai tempat untuk berbagi kebaikan, bukan untuk menyebarkan kebencian.
"Dengan menyebarkan pesan damai dan positif, kita turut serta membangun Kota Bogor yang lebih baik," kata Muhyidin.***




