BOGOR.POJOKSATU.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi adanya sejumlah gangguan atmosfer yang berpotensi meningkatkan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia pada awal Mei 2026.
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi beberapa fenomena dinamika atmosfer global yang sedang aktif dan saling berinteraksi.
Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan bahwa salah satu faktor utama adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), yaitu gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di sekitar wilayah tropis dan berpengaruh terhadap peningkatan pembentukan awan hujan.
Selain itu, terdapat pula fenomena gelombang Equatorial Rossby yang turut memperkuat dinamika atmosfer di wilayah Indonesia, serta gelombang Kelvin yang aktif dan berkontribusi pada peningkatan curah hujan.
“Sejumlah fenomena atmosfer tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif secara signifikan, sehingga berpotensi memicu hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah,” tulis BMKG dalam keterangannya.
BMKG memproyeksikan potensi cuaca ekstrem ini akan terjadi dalam periode 2 hingga 8 Mei 2026. Sejumlah wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, serta DKI Jakarta.
Selain itu, wilayah di Pulau Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga masuk dalam daftar potensi terdampak.
Di luar Jawa, potensi cuaca ekstrem turut mengintai wilayah Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Maluku, hingga kawasan timur Indonesia seperti Papua Pegunungan dan Papua Selatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang dapat ditimbulkan, seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan aktivitas transportasi.
Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, diharapkan untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG.
“Diharapkan masyarakat tidak mengabaikan peringatan dini yang dikeluarkan, serta mengambil langkah antisipasi guna meminimalisir risiko yang mungkin terjadi,” lanjut keterangan tersebut.
Dengan kondisi atmosfer yang dinamis, peran kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi dampak dari potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diharapkan dapat bersinergi dalam melakukan mitigasi dan respons cepat terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi yang muncul. ***


