BOGOR.POJOKSATU.id – Isu ancaman gempa megathrust kembali menjadi perhatian masyarakat, termasuk warga Bogor yang berada relatif dekat dengan kawasan selatan Jawa dan Selat Sunda.
Namun masyarakat perlu memahami satu hal penting. Hingga saat ini belum ada ciri khusus yang dapat digunakan untuk memastikan gempa megathrust akan terjadi dalam hitungan hari, jam maupun menit.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini belum mampu memprediksi secara tepat kapan, di mana, serta berapa kekuatan gempa yang akan terjadi.
Artinya, kemunculan gempa kecil, cuaca panas, perilaku hewan maupun fenomena alam tertentu tidak dapat dijadikan patokan bahwa gempa megathrust segera terjadi.
Potensi Megathrust Selat Sunda sendiri merupakan kajian kebencanaan, bukan ramalan bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat.
Lantas apa yang harus dikenali warga Bogor?
Saat guncangan kuat terjadi, masyarakat harus segera melindungi kepala dan badan dari benda yang berpotensi jatuh. Jika berada di dalam bangunan, berlindunglah di bawah meja yang kokoh dan menjauh dari kaca.
Setelah guncangan berhenti, keluar menuju tempat terbuka secara tertib dan hindari bangunan, pohon serta tiang listrik yang berpotensi roboh.
BMKG juga mengingatkan masyarakat yang berada di kawasan pegunungan untuk mewaspadai longsoran setelah gempa. Hal ini menjadi penting bagi sejumlah wilayah Bogor yang memiliki kontur perbukitan dan lereng.
Gempa dari kawasan selatan Jawa juga dapat terasa sampai Bogor. Pada 19 Juli 2026, misalnya, gempa M5,0 di barat daya Kota Sukabumi tercatat dirasakan dengan intensitas II MMI di Bogor. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Karena gempa tidak bisa diprediksi waktunya, kunci keselamatan bukan mencari “tanda akan terjadi gempa”, tetapi menyiapkan rumah aman, jalur evakuasi, tas siaga dan mengikuti informasi resmi BMKG.
Jadi, jika ada informasi yang menyebut tanggal pasti gempa megathrust akan terjadi, masyarakat jangan langsung percaya. ***



