BOGOR.POJOKSATU.id - Aktivitas jogging yang seharusnya menjadi rutinitas menyehatkan di trotoar Seputaran Kebun Raya Bogor justru berubah menjadi tantangan tersendiri bagi para pelari.

Trotoar yang idealnya digunakan sebagai jalur pejalan kaki kini kerap dipenuhi aktivitas pedagang, terutama pada Minggu pagi.

Alih-alih bisa berlari dengan nyaman, para pelari justru harus beradaptasi dengan berbagai “rintangan” di sepanjang jalur. Mulai dari gerobak, kursi plastik, hingga antrean pembeli yang kerap menutup akses trotoar.

“Harusnya trotoar itu buat pejalan kaki atau pelari, tapi sekarang malah jadi seperti pasar. Mau lari lancar saja susah,” ungkap salah satu warga yang rutin berolahraga pagi.

Kondisi ini membuat pengalaman jogging tak lagi soal menjaga ritme atau jarak tempuh, melainkan soal kemampuan berkelit di tengah kepadatan aktivitas.

Bahkan, tidak sedikit pelari yang terpaksa berhenti karena jalur yang terlalu padat.

Ironisnya, ketika terjadi gesekan antara pelari dan aktivitas di trotoar, pelari kerap dianggap kurang sabar. Padahal, ruang publik yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki justru telah beralih fungsi.

Fenomena ini menjadi sorotan karena menunjukkan berkurangnya fungsi trotoar sebagai fasilitas umum.

Banyak warga berharap adanya penataan yang lebih tegas agar ruang publik bisa kembali digunakan sesuai peruntukannya.

Kini, lari pagi di Bogor bukan hanya tentang kebugaran, tetapi juga tentang kesabaran menghadapi realita trotoar yang semakin dipadati aktivitas non-pejalan kaki.***