POJOKSATU.id - Sungai Cileungsi, Kabupaten Bogor, diduga tercemar limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3), yang ditandai dengan banyakya ikan mati di aliran sungai tersebut, Jumat (7/4).
Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman menjelaskan pihaknya menerima laporan masyarakat mengenai pencemaran dan matinya ribuan ikan di sungai tersebut.
Dia menduga, pencemaran terjadi dari hulu hingga hilir sungai dengan kepekatan pencemaran cukup tinggi yang mulai terjadi pada Kamis (6/4).
Puarman mengungkapkan, tim KP2C melakukan pemantauan di sejumlah titikn seperti di Jembatan Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal. Di mana kondisi air Sungai Cileungsi cenderung normal dan tidak ditemukan ikan mati.
Namun, di Jembatan Wika, Desa Tlajung Udik, masyarakat mulai menemukan ikan-kan mati pada Kamis (6/4). Namun, ikan mati tidak lagi ditemukan keesokan harinya.
Di Jembatan Cikuda, Wanaherang, Kabupaten Bogor, terpantau Rabu (5/4) pukul 23.00 WIB, kualitas air sungai dalam kondisi normal. Tidak ditemukan ikan mati. Namun, pada Kamis, pukul 02.00 WIB ditemukan banyak ikan mabok dan mati.
Memasuki area Curug Parigi, Cikiwul, Bantar Gebang, Kota Bekasi, pada Kamis ditemukan ikan mati dalam jumlah luar biasa. Esoknya, Jumat, kondisi yang sama terlihat. Banyak ikan mati.
Sementara di Perumahan Bumi Mutiara Blok Ji, Kabupaten Bogor, pada Kamis, pukul 11.00 WIB, ditemukan banyak ikan mati. Hari berikutnya Jumat, pukul 10.00 WIB, juga demikian. Ikan banyak yang mati dan mengambang.
Laporan warga menyebutkan, di Jembatan Vila Nusa Indah - Bantar Gebang, Pangkalan 1, pada Kamis sore banyak ikan mati. Pada Jumat pukul 10.00 WIB tetap banyak ikan mati.
Limbah rupanya tetap mengancam habitat sungai. Akibatnya, terpantau pada Jumat pukul 09.00 WIB, ikan banyak yang mati di Perumahan Kemang Pratama, Kota Bekasi, lokasi yang terbilang jauh dari hulu sungai
"Patut diduga sumber pencemaran limbah antara jembatan Leuwikaret, Klapanunggal dengan jembatan Wika, Tlajung Udik," ujar Ketua KP2C, Puarman.
KP2C meminta pemerintah menyelidiki penyebabnya. "Aliran sungai yang membawa ikan mati ini sudah berlangsung lebih dari 24 jam," tandas Puarman.
(Rishad Noviansyah)



