BOGOR.POJOKSATU.id – Perjalanan pengguna KRL Commuter Line lintas Bogor-Jakarta pada September 2026 terasa semakin berat.
Sejak adanya pengurangan 17 perjalanan KRL mulai 7 September hingga 30 September 2026, kepadatan penumpang disebut semakin parah, terutama pada jam sibuk pagi hari.
Jumlah kereta yang berkurang, ditambah sebagian rangkaian yang hanya terdiri dari delapan gerbong, membuat banyak penumpang harus berdesak-desakan sejak berada di peron.
Keluhan pun ramai bermunculan di media sosial.
Sejumlah pengguna mengaku kesulitan masuk ke dalam kereta karena kondisi di dalam rangkaian sudah penuh, sementara penumpang di peron terus bertambah.
Pengguna Threads @rthhdwi mengeluhkan kondisi tersebut.
“Penumpang di dalem udah penuh, di peron juga numpuk makin gabisa naik,” tulisnya.
Tak sedikit penumpang akhirnya memilih melewatkan satu hingga dua kereta karena kondisi terlalu padat.
Keluhan yang lebih keras disampaikan pengguna Threads @satriaakbarnugroho.
Ia menilai kepadatan penumpang yang terjadi sudah berada pada kondisi yang tidak manusiawi.
Dalam pengalamannya, kepadatan ekstrem bahkan disebut sampai membuat seorang penumpang pingsan.
Bagi pengguna KRL Bogor-Jakarta, kondisi ini bukan hanya persoalan tidak nyaman.
Mereka harus memperhitungkan waktu lebih panjang untuk berangkat kerja, risiko tertinggal kereta, hingga kemungkinan terlambat sampai tujuan.
Rutinitas yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjuangan sejak pagi.
Penumpang harus antre, berebut ruang di dalam gerbong, berdiri berhimpitan, atau menunggu kereta berikutnya.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap transportasi massal yang cepat dan terjangkau, para komuter berharap kapasitas perjalanan dapat segera kembali lebih memadai.
Sebab bagi mereka, perjalanan menuju tempat kerja seharusnya tidak berubah menjadi perjuangan untuk sekadar mendapatkan ruang berdiri di dalam kereta. ***



