POJOKBOGOR - Bogor memperkuat langkah penanganan menyusul sebaran abu vulkanik yang berdampak di sejumlah wilayah Kota Bogor. Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi paparan abu sekaligus menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Penanganan dilakukan secara terpadu, mulai dari pemantauan kualitas udara, penyemprotan jalan dan fasilitas publik menggunakan water mist, pembagian masker, hingga penguatan layanan kesehatan di puskesmas.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor, Ana Ismawati, mengatakan keselamatan dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas Pemkot Bogor dalam menghadapi kondisi tersebut.

Menurutnya, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim telah menginstruksikan jajaran pemerintah daerah untuk mengambil langkah antisipatif sejak Minggu 6 September 2026.

Masyarakat pun diminta tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar rumah.

“Kami terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi waspada. Gunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Apabila terjadi hujan abu sebaiknya segera menghindari aktivitas di luar ruangan,” ujar Ana, Selasa 8 September 2026.

Selain menggunakan masker, warga diimbau menutup pintu dan jendela rumah saat terjadi hujan abu. Masyarakat juga diminta segera membersihkan diri setelah beraktivitas di luar rumah serta menjaga makanan dan air minum agar tidak terpapar abu.

Kualitas Udara Dipantau

Untuk memastikan kondisi udara tetap terpantau, Pemkot Bogor berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup melalui penggunaan Air Quality Monitoring System (AQMS) atau Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU).

Data kualitas udara tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Pemkot Bogor sebelumnya juga telah berkoordinasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) University untuk melakukan pemantauan kualitas udara di wilayah Kota Bogor.

Upaya perlindungan juga diterapkan pada sektor pendidikan. Pemkot Bogor memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa jenjang TK, SD, dan SMP mulai 7 September 2026.

Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik terhadap peserta didik dan akan dievaluasi sesuai perkembangan kondisi kualitas udara.

Ruas Jalan Disemprot Water Mist

Di lapangan, petugas gabungan BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor melakukan penyemprotan menggunakan metode water mist.

Penyemprotan menyasar sejumlah ruas jalan dan fasilitas publik dengan tujuan mengurangi sebaran abu vulkanik di lingkungan masyarakat.

Penanganan kemudian diperluas secara bertahap ke sejumlah jalur lainnya. Pemkot Bogor juga menggandeng unsur TNI dan Polri untuk memperluas penyemprotan di ruas jalan yang belum tertangani.

190.150 Masker Dibagikan

Selain penanganan lingkungan, Pemkot Bogor juga memperkuat perlindungan langsung bagi masyarakat. Sebanyak 190.150 masker telah didistribusikan melalui kecamatan, kelurahan, puskesmas, hingga posyandu.

Masker terutama diberikan kepada kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih, seperti lansia, pekerja lapangan, serta masyarakat yang rentan terhadap gangguan saluran pernapasan.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Bogor memperkuat surveilans di 25 puskesmas untuk memantau dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan warga.

Enam indikator kesehatan dipantau, yakni ISPA, pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, konjungtivitis, dan dermatitis.

Secara keseluruhan, jumlah kasus dari keenam indikator tersebut belum menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, terdapat kenaikan pada dua indikator yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik.

Kasus PPOK tercatat meningkat dari 24 menjadi 31 kasus, sementara kasus konjungtivitis atau iritasi mata naik dari 30 menjadi 36 kasus.

Dinkes Kota Bogor kemudian meningkatkan intensitas surveilans di wilayah terkait. Ketersediaan obat dan alat pelindung diri (APD) di seluruh puskesmas juga dipastikan tetap terjaga.

Edukasi kepada masyarakat mengenai perlindungan kesehatan dan risiko paparan abu vulkanik terus dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi publik.

Ana menegaskan, langkah penanganan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan situasi di lapangan.

Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dari kanal resmi pemerintah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.