POJOKBOGOR.id – Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (RS PMI) Bogor menghadapi peningkatan kunjungan pasien dalam sepekan terakhir.
Jumlah pasien yang biasanya berada di kisaran 80 hingga 90 orang per hari kini meningkat menjadi lebih dari 100 pasien dalam sehari.
Lonjakan tersebut mulai memberikan tekanan terhadap kapasitas pelayanan rumah sakit, terutama Instalasi Gawat Darurat serta ketersediaan ruang rawat inap.
Humas RS PMI Bogor, Dwi Hastuti membenarkan terjadinya kenaikan jumlah kunjungan tersebut.
“Betul, ada lonjakan pasien. Yang biasanya kunjungan pasien per hari itu sekitar di bawah 100, sekitar 80 sampai 90, sekarang mencapai di atas 100,” kata Dwi Hastuti, Kamis, 24 September 2026.
Baca Juga: PMI Kerap Tiba Lebih Dulu di Lokasi Bencana, Rudy Soroti Peran Kemanusiaan di Kabupaten Bogor
Berdasarkan data kunjungan pada 21 hingga 23 September 2026, jumlah pasien tercatat mencapai 114 orang pada Senin, 21 September, kemudian 104 pasien pada Selasa, 22 September, dan meningkat menjadi 122 pasien pada Rabu, 23 September 2026.
Angka tersebut menunjukkan tekanan pelayanan tidak hanya terjadi dalam satu hari, tetapi berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.
Belum Ada Penyakit yang Terlihat Mendominasi
Meski kunjungan meningkat cukup signifikan, pihak RS PMI Bogor belum menemukan adanya satu jenis penyakit tertentu yang mendominasi pasien yang datang.
Dwi menyebut kondisi kepadatan saat ini lebih terlihat dari sisi keterisian ruang rumah sakit.
“Kalau untuk penyakit mungkin tidak ada penyakit yang menonjol. Rata-rata sama, mungkin karena kondisi ruangan saja yang penuh,” ujar Dwi, Kamis, 24 September 2026.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena lonjakan pasien belum dapat langsung dikaitkan dengan satu penyakit atau kejadian kesehatan tertentu.
Baca Juga: Hampir 10 Tahun Tak Pulang, PMI Yuni Akhirnya Bertemu Sang Ibu Berkat Kejutan BRI
Pihak rumah sakit masih melakukan pendataan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai faktor yang menyebabkan peningkatan kunjungan dalam sepekan terakhir.
“Sampai saat ini belum ada, kami masih mencari, masih mendata penyebab lonjakannya. Karena belum ada data yang signifikan,” jelas Dwi, Kamis, 24 September 2026.
Artinya, fokus pelayanan saat ini berada pada bagaimana rumah sakit menjaga kapasitas dan memastikan pasien tetap mendapatkan penanganan di tengah tingkat keterisian yang tinggi.
Saat Ruangan Penuh, Sistem Rujukan Jadi Penting
RS PMI Bogor mengantisipasi kondisi tersebut dengan mengoptimalkan sumber daya manusia maupun fasilitas rumah sakit.
“Kami mengantisipasi dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada dan fasilitas rumah sakit,” ungkap Dwi, Kamis, 24 September 2026.
Namun ketika kapasitas ruang sudah terbatas, pelayanan tidak dapat hanya mengandalkan satu rumah sakit.
Koordinasi antar-fasilitas kesehatan menjadi penting agar pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan dapat diarahkan ke rumah sakit lain yang masih memiliki kapasitas.
Baca Juga: Sasar PMI dan Diaspora, BRI Hadirkan BRImo Taiwan untuk Layanan Keuangan Lintas Negara
“Kami membantu dengan rumah sakit sekitar kami untuk informasi rujukan ke beberapa rumah sakit. Koordinasi dengan rumah sakit lain juga,” tutur Dwi, Kamis, 24 September 2026.
Persoalan kapasitas dan sistem rujukan sebelumnya juga menjadi perhatian dalam pembahasan pelayanan kesehatan Kota Bogor.
Dinas Kesehatan Kota Bogor menyebut keterbatasan ruang perawatan, fasilitas, serta tenaga dokter dapat menjadi faktor yang memengaruhi penerimaan rujukan pasien.
Pemerintah juga mendorong koordinasi lintas rumah sakit, termasuk dengan fasilitas kesehatan di Kabupaten Bogor, agar proses rujukan lebih tertata.
Penguatan sistem rujukan juga masuk dalam pembahasan regulasi penyelenggaraan kesehatan di Kota Bogor yang mencakup tata kelola pelayanan, standardisasi mutu fasilitas kesehatan, hingga perlindungan hak pasien.
Baca Juga: BRI Peduli Bekali 60 Purna PMI di Cirebon dengan Pelatihan Wirausaha untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi
Dinkes Baru Soroti False Emergency di IGD
Kondisi RS PMI Bogor terjadi hanya beberapa hari setelah Dinas Kesehatan Kota Bogor mengangkat persoalan false emergency di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit.
Pada 19 September 2026, Dinkes Kota Bogor secara resmi mendorong optimalisasi Puskesmas 24 jam sebagai salah satu langkah mengurangi pasien dengan kasus non-gawat darurat yang langsung menuju IGD rumah sakit.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena menjelaskan bahwa terdapat pasien yang datang ke UGD rumah sakit meskipun kondisinya masih dapat ditangani melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Enam Puskesmas dengan layanan UGD 24 jam telah disiapkan di enam kecamatan Kota Bogor, yakni Pasir Mulya di Bogor Barat, Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Utara, Tanah Sareal, dan Bogor Selatan.
Keberadaan layanan tersebut menjadi salah satu jalur untuk melakukan asesmen awal bagi kondisi yang tidak mengancam nyawa.
Sementara bagi pasien yang benar-benar mengalami kegawatdaruratan, rumah sakit tetap menjadi tujuan utama dan penanganannya tidak boleh ditunda.
Pada Agustus 2026, DPRD Kota Bogor juga mengingatkan bahwa pasien dengan kondisi gawat darurat harus tetap mendapatkan penanganan segera meskipun rumah sakit menghadapi persoalan keterbatasan kapasitas.
Baca Juga: Pemkot Serahkan Hasil Dukungan Bulan Dana kepada PMI Kota Bogor Sebesar Rp 483 Juta
RS PMI Sebelumnya Sudah Perluas Akses Layanan 24 Jam
Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sebenarnya telah menjadi perhatian RS PMI Bogor sejak beberapa bulan sebelumnya.
Pada Maret 2026, RS PMI Bogor membuka Klinik 24 Jam di Gedung Afiat. Layanan tersebut disiapkan untuk memberikan alternatif pelayanan kesehatan di luar jam praktik reguler, terutama bagi pasien yang membutuhkan pemeriksaan tetapi tidak berada dalam kondisi kegawatdaruratan.
Di tingkat pemerintah daerah, program pelayanan kesehatan Kota Bogor pada 2026 juga memasukkan penguatan IGD Puskesmas 24 jam sebagai salah satu program sektor kesehatan.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepadatan pelayanan rumah sakit bukan hanya menyangkut penambahan ruang, tetapi juga bagaimana pasien tersebar sesuai tingkat kebutuhan medisnya.
Baca Juga: PMI Kabupaten Bogor Kirim Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana Cisarua Bandung Barat
Untuk kondisi RS PMI Bogor saat ini, pihak rumah sakit menegaskan koordinasi dengan fasilitas kesehatan lain akan terus dilakukan.
“Upayanya itu kami koordinasi untuk berusaha mengoptimalkan pelayanan kami untuk pasien dan tujuannya adalah untuk kenyamanan pasien,” pungkas Dwi Hastuti, Kamis, 24 September 2026.
Dengan kunjungan yang kini menembus lebih dari 100 pasien per hari, optimalisasi kapasitas rumah sakit, pemanfaatan pelayanan primer, dan kepastian rujukan antar-rumah sakit menjadi bagian penting untuk menjaga alur pelayanan kesehatan di Bogor.



