BOGOR.POJOKSATU.id - Di tengah kekhawatiran meningkatnya kenakalan remaja, Pemerintah Kota Bogor mengambil langkah konkret dengan menyiapkan barak militer sebagai tempat pembinaan bagi anak-anak yang dinilai memerlukan bimbingan khusus.
Program ini akan dilaksanakan di markas Batalyon Infanteri (Yonif) 315/Garuda, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat.
Barak ini bukanlah instalasi militer dalam pengertian resmi untuk pelatihan prajurit, melainkan diadaptasi menjadi ruang pembinaan berdisiplin tinggi yang diperuntukkan bagi remaja yang terlibat dalam perilaku menyimpang seperti tawuran, bolos sekolah, hingga pelanggaran sosial lainnya.
Program ini dikenal sebagai “barak militer pembinaan remaja,” sebuah inisiatif yang bertujuan menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan karakter positif melalui pendekatan semi-militer yang dipadukan dengan bimbingan psikologis dan pendidikan.
“Hari ini kami meninjau rencana tempat bagi anak-anak yang membutuhkan bimbingan, terutama yang disebut Pak Gubernur Jawa Barat sebagai anak-anak yang harus dimasukkan ke barak militer,” ujar Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat mengunjungi Yonif 315/Grd, Minggu (1/6).
Barak yang disiapkan memiliki kapasitas untuk menampung hingga 100 anak pada tahap awal, dengan pembagian 80 anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Program tahap pertama akan difokuskan pada siswa tingkat SMA. Namun, waktu pelaksanaan masih menunggu kepastian dari sisi anggaran dan teknis operasional.
“Tempat sudah siap, tinggal menghitung pembiayaannya. Pelaksanaan bisa saja bulan Juni atau Juli, tergantung kesiapan,” jelas Dedie.
Uniknya, mekanisme program ini bukan berbasis hukuman atau paksaan dari pihak sekolah atau aparat, melainkan melalui jalur pendaftaran sukarela dari orang tua.
Dedie menegaskan bahwa orang tua yang merasa sudah kesulitan menangani kenakalan anaknya bisa mendaftarkan secara resmi ke Pemkot Bogor.
“Pendekatan kami adalah memberikan ruang bagi orang tua yang memang sudah tidak mampu lagi membimbing anaknya di rumah,” tambahnya.
Program ini melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor, serta psikolog profesional untuk memastikan pendekatan yang digunakan tetap memperhatikan aspek psikologis anak.
Materi pembinaan mencakup dua hal utama: pembelajaran akademik sesuai jenjang pendidikan dan pembinaan karakter yang dilakukan oleh pelatih dari Yonif 315/Grd.
“Kami akan membina mereka dari bangun pagi hingga tidur malam, dalam suasana yang mendisiplinkan, namun tetap mendidik,” ujar Dandim 0606/Kota Bogor, Kolonel Inf Dwi Agung Prihanto.
Letkol Inf Bistok Barry Simarmata, Komandan Yonif 315/Grd, menyatakan bahwa seluruh sarana dan prasarana sudah siap untuk digunakan.
“Akomodasi seperti tempat tidur, kamar mandi, toilet sudah sesuai standar. Kegiatan pelatihan sebelumnya juga rutin dilakukan di sini, jadi dari sisi kesiapan kami cukup percaya diri,” jelasnya.
Di dalam barak, para remaja akan menjalani aktivitas terstruktur seperti apel pagi, olahraga fisik, baris-berbaris, serta sesi konseling dan pembentukan karakter.
Meskipun pendekatannya disiplin, para pembina menegaskan bahwa tujuannya bukan menghukum, melainkan membentuk ulang mental dan sikap para peserta.
Seorang pembina yang merupakan pensiunan TNI mengatakan, “Kami tidak keras tanpa arah. Disiplin ini bertujuan membentuk karakter mereka, agar mereka bisa kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.”
Program barak militer pembinaan ini mendapat respons beragam dari masyarakat. Sebagian besar menyambut baik langkah ini sebagai solusi preventif terhadap masalah sosial yang semakin kompleks, terutama di kalangan remaja.
Namun, ada pula yang berharap agar pendekatan disiplin tetap diimbangi dengan bimbingan psikologis yang humanis agar tidak menimbulkan trauma.
Meski begitu, inisiatif ini dinilai sebagai langkah berani dan progresif yang menyentuh langsung akar persoalan kenakalan remaja.
Dengan sinergi lintas sektor, program ini diharapkan mampu memberikan harapan baru bagi remaja yang sempat kehilangan arah, dan membuka jalan bagi mereka untuk kembali ke jalur yang positif dan produktif dalam masyarakat. ***



