Perusahaan menegaskan, program tersebut merupakan bagian dari nilai dan komitmen McDonald’s Indonesia terhadap masyarakat, khususnya dalam mendukung pendidikan inklusif yang telah berjalan selama lebih dari tiga dekade.
“Ini bukan merupakan strategi untuk mengembalikan atau melepaskan isu segala macam, tapi memang ini bagian dari nilai perusahaan,” ujar perwakilan McDonald’s Indonesia dalam sesi wawancara, Selasa 15 September 2026.
Menurutnya, McDonald’s Indonesia memiliki nilai perusahaan yang menekankan prinsip accountable, care, dan credible (ACC). Nilai tersebut diwujudkan melalui komitmen untuk selalu hadir dan berada dekat dengan masyarakat.
Pendidikan menjadi salah satu bidang yang dinilai penting untuk mewujudkan komitmen tersebut.
Bukan Komitmen Baru
McDonald’s Indonesia menegaskan perhatian terhadap pendidikan bukanlah komitmen yang baru muncul. Perusahaan menyebut dukungan terhadap pendidikan dan komunitas telah menjadi bagian dari perjalanan McDonald’s Indonesia selama lebih dari 30 tahun.
Namun, peluncuran Beasiswa Pendidikan Tinggi McD menjadi milestone atau tonggak baru dari komitmen tersebut.
“Jadi sebenarnya ini bukan komitmen yang baru, tetapi milestone-nya yang baru,” katanya.
Program ini sekaligus menjadi beasiswa pendidikan tinggi pertama yang secara resmi diluncurkan McDonald’s Indonesia.
Sebanyak 35 mahasiswa baru IPB University dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi terpilih sebagai penerima beasiswa. Sebagai langkah awal, McDonald’s Indonesia menggandeng Yayasan Alumni Peduli IPB (YAPI) untuk memberikan dukungan selama tahun pertama perkuliahan.
Peluncuran program tersebut juga menjadi bagian dari momentum 35 tahun perjalanan McDonald’s Indonesia di Indonesia.
Tak Sekadar Bantuan Finansial
Program Beasiswa Pendidikan Tinggi McD tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan selama dua semester pertama.
Para penerima juga mendapatkan voucher makanan, pelatihan, serta kesempatan magang dan mengenal dunia kerja secara langsung di McDonald’s Indonesia.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan, mengembangkan kemampuan, membangun kepercayaan diri, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Director of Human Resources & General Services McDonald’s Indonesia, Yulianti Hadena, mengatakan program tersebut lahir dari perhatian terhadap perjuangan mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi.
“Kami melihat perjuangan dan kerja keras adik-adik mahasiswa untuk sampai di titik ini. Hal ini menjadi alasan kami menghadirkan Beasiswa Pendidikan Tinggi McD sebagai milestone baru dari komitmen kami untuk mendukung pendidikan inklusif yang sudah berjalan selama lebih dari tiga dekade,” ujar Yulianti.
Melalui program tersebut, McDonald’s Indonesia ingin memberikan ruang bagi para penerima beasiswa untuk belajar, berkembang, dan mendapatkan pengalaman sebagai bekal menjadi future leaders yang berkarakter dan mampu memberikan dampak positif.
Program ini mengusung semangat “Cita dan Daya”, dengan harapan para mahasiswa semakin percaya diri menentukan langkah dan membangun masa depan.
Akses Pendidikan Tinggi Masih Menjadi Tantangan
Kehadiran program tersebut tidak terlepas dari masih adanya tantangan dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi anak muda dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia pada 2025 mencapai 32,89 persen, meningkat dari 32 persen pada 2024.
Meski mengalami peningkatan, persoalan ekonomi masih menjadi salah satu tantangan bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan tinggi.
Pada 2025, pemerintah mencatat sebanyak 17.816 calon mahasiswa yang telah dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri tidak melakukan daftar ulang. Keterbatasan biaya, termasuk biaya hidup bagi calon mahasiswa yang tidak memperoleh KIP Kuliah secara penuh, disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan tersebut.
Kondisi serupa juga menjadi perhatian YAPI yang selama ini mendampingi mahasiswa IPB University.
Ketua YAPI, Andi Irman Patiroi, mengatakan kebutuhan dukungan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi masih cukup tinggi.
“Berdasarkan pengamatan kami mendampingi mahasiswa, kebutuhan dukungan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi masih cukup tinggi. Rata-rata tiap tahun, mahasiswa yang membutuhkan beasiswa dapat mencapai hingga 40 persen dari yang diterima di IPB University,” ujar Andi.
Karena itu, menurutnya, dukungan dari pihak swasta menjadi penting untuk memperluas akses pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkan.
YAPI sendiri telah menjalankan berbagai program beasiswa sejak 2016 untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan dukungan pendidikan sejak tahap awal perkuliahan.
IPB Apresiasi Dukungan hingga Magang
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University, Prof. drh. Deni Noviana, Ph.D., mengapresiasi program tersebut karena dukungan yang diberikan tidak berhenti pada pembiayaan pendidikan.
“Kami mengapresiasi McDonald’s Indonesia yang tidak hanya menghadirkan bantuan finansial, tetapi juga membuka kesempatan bagi para penerima beasiswa untuk belajar dan mengembangkan potensi di luar kelas lewat program pelatihan hingga kesempatan magang,” ujarnya.
Menurut Deni, pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menjadi generasi pemimpin masa depan yang siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Kolaborasi ini sekaligus sejalan dengan komitmen IPB University dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Kisah Silha, Penerima Beasiswa yang Jadi Orang Pertama Kuliah di Keluarga
Salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Tinggi McD adalah Silha Napisah, mahasiswa baru Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University.
Bagi Silha, diterima di IPB University merupakan pencapaian besar. Ia bahkan menjadi orang pertama dalam keluarga besarnya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Perjalanan tersebut tidak mudah. Ayahnya bekerja sebagai kuli panggul ikan di Muara Baru, Jakarta Utara, dengan penghasilan yang bergantung pada aktivitas bongkar muat ikan. Sementara ibunya membantu perekonomian keluarga dengan mengajar mengaji anak-anak di lingkungan tempat tinggal.
Kondisi ekonomi keluarga sempat membuat Silha khawatir akan menjadi beban ketika melanjutkan pendidikan.
Sejak sekolah, ia berusaha membantu keluarga dengan mengajar les privat, mulai dari calistung hingga Matematika dan Fisika.
“Buat saya, bisa diterima di IPB University adalah sesuatu yang sangat saya syukuri karena ini memang kampus impian saya. Alhamdulillah, mendapat Beasiswa Pendidikan Tinggi McD ini rasanya seperti jawaban atas doa saya dan kedua orang tua,” tutur Silha.
Ia pun bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.
“Saya ingin terus belajar dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, supaya suatu hari nanti saya bisa membuat Bapak dan Umi tidak perlu bekerja sekeras sekarang,” katanya.
Program Beasiswa Pendidikan Tinggi McD akhirnya tidak hanya menjadi sarana bantuan biaya pendidikan bagi 35 mahasiswa IPB University. Program tersebut juga dirancang untuk memberikan pengalaman, pelatihan, dan akses mengenal dunia kerja.


.webp)
