POJOKBOGOR.id – Suara protes kembali menggema di jantung Kota Bogor.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Bogor (FMB) turun ke jalan, Jumat (1/8/2025), menyuarakan penolakan terhadap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP).
Aksi berlangsung di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, tak jauh dari pusat pemerintahan.
Dengan spanduk dan poster yang mencolok, para mahasiswa menyuarakan desakan 'Cabut RKUHAP!'
Menurut mereka, bukan hanya isi rancangan yang bermasalah, tapi juga proses penyusunannya.
"Secara formil, RKUHAP cacat. Tidak ada naskah akademik, tidak dibuka ke publik. Ini sudah jadi catatan merah bagi demokrasi," tegas Muhammad Alfadli Ridwan, Ketua Umum FMB.
Beberapa pasal dalam RKUHAP dinilai berpotensi mengekang kebebasan sipil.
Salah satunya soal penangkapan tanpa surat pengadilan, yang dianggap membuka ruang penyalahgunaan kekuasaan.
Tak hanya itu, revisi aturan soal diversi anak juga disorot.
Dalam KUHAP sebelumnya, anak di bawah usia 18 tahun masih mendapat ruang diversi (pengalihan penyelesaian perkara pidana ke luar peradilan).
Namun dalam RKUHAP, batas usia itu turun menjadi 12 tahun.
"Ini langkah mundur. Anak usia 13-17 itu rentan, harusnya tetap dilindungi, bukan malah dihilangkan haknya," ujar Alfadli.
Yang lebih kontroversial, kata mereka, adalah perluasan kewenangan bagi TNI untuk ikut melakukan penyidikan dan penangkapan.
Menurut FMB, hal ini jelas melanggar Undang-Undang tentang TNI yang menyebut militer hanya boleh bertindak di ranah pertahanan negara.
“Kalau ini dibiarkan, TNI akan masuk terlalu jauh ke ranah sipil. Ini berbahaya, bisa langgar HAM dan menggerus prinsip negara hukum,” tambahnya.
Dalam aksi itu, FMB tidak sendiri. Mereka berkolaborasi dengan beberapa aliansi seperti Aliansi Pemuda Menggugat, Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Melawan, serta komunitas Bogorku Jilang.
Mereka menyatakan bahwa sikap perlawanan dari daerah akan terus digaungkan jika pusat tetap bungkam.
"Kami beri waktu 1x24 jam. Kalau tidak ada tanggapan dari Istana atau DPR, kami akan kembali turun dengan jumlah lebih besar,” tegas Alfadli di penghujung orasi.
Aksi ini pun jadi sinyal bahwa perlawanan terhadap RKUHAP tak hanya datang dari kampus-kampus besar di ibu kota, tapi juga dari gerakan akar rumput di daerah.




