POJOKBOGOR.id - Pemkot Bogor memperkuat langkah pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus upaya mitigasi perubahan iklim. Langkah tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Dietplastik Indonesia untuk mendorong pengelolaan sampah sejak dari sumber.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Upaya Mitigasi Perubahan Iklim melalui Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Kota Bogor, Senin 7 September 2026, di Balai Kota Bogor.
Kesepakatan ditandatangani Wali Kota Bogor Dedie Rachim bersama Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia Tiza Mafira. Kerja sama tersebut akan berlangsung selama tiga tahun.
Melalui kerja sama ini, Pemkot Bogor dan Dietplastik Indonesia akan mengembangkan berbagai kebijakan, program, dan kegiatan pengelolaan sampah yang terpadu serta berkelanjutan.
Ruang lingkupnya mencakup penguatan tata kelola dan regulasi persampahan, pengurangan sampah plastik melalui pengembangan ekosistem guna ulang (reuse), hingga pengelolaan sampah organik.
Selain itu, kedua pihak akan mendorong inventarisasi emisi gas rumah kaca, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, edukasi dan pelibatan masyarakat, serta pertukaran data dan informasi sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Ini merupakan langkah yang penting untuk kebijakan pengelolaan sampah di Kota Bogor. Dimulai dengan pembatasan plastik sekali pakai, kebijakan ini diperkuat dengan penyediaan tempat kantong belanja di pasar tradisional. Kami berharap kerja sama ini bisa memberikan dampak positif untuk perkembangan lingkungan di Kota Bogor,” ujar Dedie A. Rachim.
Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Hulu
Permasalahan sampah di perkotaan tidak hanya berkaitan dengan kebersihan atau kapasitas pengangkutan. Meningkatnya timbulan sampah, penggunaan plastik sekali pakai, serta tantangan dalam mengelola sampah organik menunjukkan perlunya perubahan pendekatan dari hulu.
Karena itu, keterlibatan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil menjadi penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia Tiza Mafira mengatakan, pihaknya telah mendampingi Pemkot Bogor sejak 2018, salah satunya melalui kebijakan pembatasan plastik sekali pakai.
“Dietplastik Indonesia telah membersamai Pemerintah Kota Bogor sejak 2018, dimulai melalui kebijakan pembatasan plastik sekali pakai. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengangkut dan memindahkan sampah,” ujar Tiza.
Menurutnya, pengurangan sampah harus dimulai sejak dari sumber dengan mencegah dan mengurangi timbulan sampah. Di sisi lain, masyarakat juga perlu didukung dengan sistem yang memungkinkan mereka menerapkan pola pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
“Pada saat yang sama, pengelolaan sampah perlu dilihat sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, terutama melalui pengelolaan sampah organik dan pengurangan emisi gas rumah kaca,” lanjutnya.
Perkuat Program Pengurangan Sampah Plastik
Sejumlah program pengurangan sampah dari sumber sebelumnya telah dijalankan Dietplastik Indonesia bersama berbagai pihak di Kota Bogor.
Di antaranya melalui Pasar Bebas Plastik Bogor serta program Drop Tas Belanja Guna Ulang bersama Perumda Pasar Pakuan Jaya.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat ekosistem pengurangan sampah dan penggunaan kembali barang (reuse) di Kota Bogor.
Kolaborasi juga akan memanfaatkan pembelajaran dari berbagai gerakan masyarakat yang telah berjalan di sejumlah wilayah.
Salah satunya melalui Proyek FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions) bersama Kelompok Peduli Lingkungan di RW 10 Situ Gede.
Program tersebut mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas untuk mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka sekaligus meningkatkan kualitas udara.
Bogor Dorong Pengurangan Emisi Metana
Kerja sama Pemkot Bogor dan Dietplastik Indonesia juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap Cities Methane Pledge.
Komitmen tersebut menempatkan pengurangan emisi metana dari sektor persampahan sebagai salah satu bagian dari agenda mitigasi perubahan iklim di tingkat kota.
Tiza mengatakan, kerja sama dengan pemerintah daerah diperlukan agar berbagai inisiatif yang telah berkembang di masyarakat tidak berhenti sebagai gerakan, tetapi dapat diperkuat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah kota.
“Kerja sama dengan pemerintah kota menjadi penting agar berbagai inisiatif yang selama ini tumbuh di masyarakat tidak berhenti sebagai gerakan, tetapi dapat diperkuat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah kota dan penguatan kebijakan yang berkaitan,” katanya.
“Kita ingin mendorong perubahan yang terukur, berbasis data, dan dapat terus dikembangkan,” pungkas Tiza.



