BOGOR.POJOKSATU.id - Saat sebagian wilayah Jawa Barat mulai merasakan kemarau panjang yang kering dan menyengat, Kota Bogor justru diprediksi tetap diguyur hujan. Fenomena ini kembali menguatkan julukan Bogor sebagai “Kota Hujan” yang seolah tak pernah benar-benar lepas dari guyuran air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memberi sinyal bahwa musim kemarau 2026 di Jawa Barat akan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk wilayah Bogor.

“Meski kemarau diprediksi lebih panjang, wilayah Bogor masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas cukup tinggi dibanding daerah lain,” demikian gambaran dari prakiraan cuaca BMKG.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat Bogor berbeda?

Faktor Geografis Jadi Kunci

Secara geografis, Bogor berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Kondisi ini membuat wilayah tersebut sangat dipengaruhi oleh fenomena hujan orografis.

Udara lembap yang datang dari laut akan naik saat bertemu pegunungan. Saat naik, suhu udara menurun dan uap air berubah menjadi awan, lalu turun sebagai hujan.

Inilah yang menyebabkan Bogor lebih sering diguyur hujan, bahkan ketika wilayah lain di sekitarnya mulai kering.

Kelembapan Udara Masih Tinggi

Selain faktor topografi, tingkat kelembapan udara di Bogor juga relatif tinggi. Hal ini membuat potensi pembentukan awan hujan tetap besar, meskipun sudah memasuki musim kemarau.

Angin yang membawa uap air dari wilayah selatan Pulau Jawa juga ikut berkontribusi terhadap kondisi ini.

Kemarau, Tapi Tidak Sepenuhnya Kering

Berbeda dengan daerah lain yang mengalami kemarau kering tanpa hujan, Bogor cenderung mengalami kemarau basah. Artinya, hujan masih tetap terjadi meski intensitasnya mungkin tidak setinggi musim penghujan.

Fenomena ini bukan hal baru, melainkan pola cuaca yang sudah lama terjadi di wilayah tersebut.

Tetap Perlu Waspada

Meski terdengar menguntungkan karena tidak mengalami kekeringan, kondisi ini justru menyimpan risiko tersendiri.

Curah hujan yang tinggi di tengah cuaca ekstrem dapat meningkatkan potensi bencana seperti longsor, banjir, hingga genangan air di sejumlah titik.

“Curah hujan yang tetap tinggi saat kemarau justru perlu diwaspadai, terutama di wilayah rawan longsor,” kata seorang pengamat cuaca.

Masyarakat diimbau untuk tetap siaga, terutama bagi yang tinggal di daerah perbukitan atau bantaran sungai.

Bogor dan Identitas Kota Hujan

Fenomena ini kembali menegaskan bahwa julukan Kota Hujan bukan sekadar identitas, melainkan kondisi nyata yang terus berulang setiap tahunnya.

Di saat daerah lain menanti hujan, Bogor justru harus bersiap menghadapi hujan yang seolah tak pernah benar-benar berhenti. ***