POJOKBOGOR.com - Kesehatan mental warga Kota Bogor menjadi perhatian Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK).

Tak heran bila TP PKK Kota Bogor gencar menyosialisasikan kesadaran kesehatan mental, khususnya bagi anak-anak dan remaja melalui peran orangtua, dalam hal ini ibu. Seperti apa?

Isu kesehatan mental masih belum banyak tersosialisasi di masyarakat. Empati terhadap penderita gangguan mental sering terabaikan, berbeda dengan perhatian yang lebih mudah diberikan kepada mereka yang sakit secara fisik.

Terlebih saat ini, banyak orang lebih peduli pada kondisi fisik, tetapi kurang memberi perhatian saat seseorang mengalami gangguan mental.

Untuk menjawab tantangan itu, program TP PKK Kota Bogor memberikan wadah ekspresi kreatif bagi remaja.

Namun lebih penting dari itu, yakni mengajak ibu-ibu di Kota Bogor untuk kembali gemar membaca dan menulis.

Aktivitas ini dipandang dapat memberikan output yang baik untuk tumbuh kembang anak saat memberikan pengasuhan.

Terlebih saat ini, anak-anak banyak terkontaminasi konten negatif di media sosial yang merusak mental anak dan remaja.

Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim berpandangan aktivitas membaca dan menulis belakangan ini sudah mulai banyak ditinggalkan.

Masifnya kemajuan teknologi dan informasi disebut jadi salah satu pemicunya.

“Sekarang hampir semua orang beralih ke smartphone. Budaya baca yang ada tidak lagi di buku, tapi di media sosial. Sebagai Bunda Literasi, saya berusaha menumbuhkan kembali minat membaca dan menulis yang sudah agak bergeser,” ujar Yantie.

Budaya membaca akan memperkaya pengetahuan dan wawasan dalam memori. Ini bisa menjadi cerita yang baik untuk disampaikan kepada anak dan cucu. Aktivitas ini pun sebaiknya ditularkan kepada mereka.

“Apalagi ibu-ibu PKK yang memang dekat dengan masyarakat. Harus bisa mengalokasikan waktu untuk membaca Alquran maupun buku apa pun, sehingga bisa memberikan dampak positif,” terang Yantie.

Aktivitas membaca perlu diiringi dengan menulis. Langkah ini dinilai penting untuk memberikan ruang ekspresi pada diri sendiri serta menjaga kondisi emosional.

“Menulis juga dapat menjadi sarana evaluasi diri ketika membaca kembali tulisan-tulisan yang pernah dibuat. Jika tulisan berisi nilai-nilai kehidupan, pengalaman, dan kebijaksanaan, ini akan berguna untuk generasi berikutnya,” bebernya.

Program kesehatan mental PKK berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat melalui penyuluhan dan edukasi, pemberdayaan kader sebagai ujung tombak, serta dukungan psikologis bagi keluarga dan remaja.

Program ini terintegrasi dalam Program Pokok PKK, terutama pada bidang Kesehatan, namun juga meluas ke Penghayatan dan Pengamalan Pancasila serta Pendidikan dan Keterampilan.

Yantie mengajak seluruh kader untuk terus berinovasi dan berkreasi dalam setiap kegiatan agar PKK dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, pada kegiatan evaluasi 10 Program Pokok PKK, Yantie menjelaskan terdapat beberapa kategori utama yang menjadi fokus penilaian, antara lain Tertib Administrasi, P4 dan Gotong Royong, Galeri Pelangi, Aku Hatinya PKK, serta Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB).

Menurutnya, melalui kegiatan ini TP PKK Kota Bogor dapat menilai berbagai capaian dan kendala yang dihadapi di lapangan untuk dijadikan dasar dalam menyusun langkah-langkah perbaikan.

Grafis: Bentuk dan Tujuan Program Kesehatan Mental PKK

1. Peningkatan Kesadaran dan Edukasi

Melalui penyuluhan, seminar, dan lokakarya, PKK mengenalkan pentingnya menjaga kesehatan mental, mengenali tanda-tanda gangguan, serta menumbuhkan lingkungan yang empatik.

2. Pemberdayaan Kader

PKK melatih kader agar mampu meningkatkan kesehatan mental masyarakat, termasuk mencegah dampak psikologis pasca pandemi.

3. Dukungan untuk Remaja

PKK melibatkan psikolog klinis untuk memberikan edukasi, menjadi ruang aman bagi remaja berbagi masalah, serta mencegah perundungan (bullying).

4. Fokus pada Keluarga

Menekankan peran keluarga dalam membentuk karakter dan kesehatan mental anak. PKK juga memberdayakan perempuan serta mendukung ekonomi keluarga untuk menjaga keseimbangan mental.

5. Terintegrasi dengan Program Pokok PKK

Meski tidak disebut secara khusus sebagai “program kesehatan mental”, inisiatif ini melekat dalam kerangka Program Pokok PKK seperti:

• Kesehatan: Edukasi dan penyuluhan kesehatan mental.

• Pendidikan dan Keterampilan: Sosialisasi di sekolah yang memuat aspek kesehatan mental.

• Penghayatan dan Pengamalan Pancasila: Pembinaan karakter keluarga dan anak, yang erat kaitannya dengan kesehatan mental.

Manfaat Program

A. Membantu masyarakat memahami pentingnya kesehatan mental setara dengan kesehatan fisik.

B. Menciptakan lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas yang lebih peduli dan mendukung.

C. Memberikan solusi bagi masalah mental seperti stres, kecemasan, hingga tekanan sosial yang berpotensi berujung tragis.