POJOKBOGOR.id – Kunjungan pasien ke sejumlah Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit di Kota Bogor mengalami peningkatan. Hingga akhir September 2026, jumlah kunjungan tercatat naik sekitar 7 persen.

Meski terjadi lonjakan pasien, Pemkot Bogor memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan maksimal dan pasien tetap mendapatkan penanganan medis.

Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin turun langsung mengecek kondisi IGD RSUD Kota Bogor, Minggu (4/10/2026).

Dalam kunjungannya, Jenal melihat aktivitas pelayanan sekaligus berinteraksi dengan sejumlah pasien yang sedang menjalani pemeriksaan.

Ia mengungkapkan, rata-rata kunjungan ke IGD RSUD Kota Bogor mencapai sekitar 300 pasien per hari. Mayoritas pasien merupakan peserta BPJS.

“Rata-rata per hari sekitar 300 pasien kemarin dan 99 persen pasien BPJS. Yang kedua, RSUD Kota Bogor menjadi rujukan rumah sakit di sekitaran Bogor Raya,” kata Jenal.

Pasien dari Luar Bogor Juga Banyak

Jenal menyebut pasien yang datang ke RSUD Kota Bogor tidak seluruhnya merupakan warga Kota Bogor. Sebagian di antaranya merupakan pasien rujukan dari daerah lain di Bogor Raya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa faktor domisili tidak boleh menjadi alasan pasien mendapatkan penolakan, khususnya bagi pasien yang belum memperoleh penanganan medis.

“Selama masih ditangani meskipun belum mendapatkan tempat tidur di IGD, masih bisa menunggu,” ujarnya.

RSUD Kota Bogor saat ini memiliki total 503 kamar, dengan 214 kamar di antaranya diperuntukkan bagi pasien BPJS Kelas III.

Jenal mengatakan, ketersediaan tersebut telah memenuhi sekitar 40 persen standar ketersediaan kamar. Namun, Pemkot Bogor masih terus berupaya mengatasi keterbatasan kapasitas pelayanan kesehatan.

43 Persen Pasien IGD Berasal dari Luar Kota Bogor

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Erna Nuraena membenarkan adanya kenaikan kunjungan pasien sebesar 7 persen di sejumlah IGD rumah sakit pada akhir September.

Dari data Dinkes Kota Bogor, sebanyak 57 persen pasien berasal dari Kota Bogor, sedangkan 43 persen lainnya berasal dari luar Kota Bogor.

Kasus yang ditangani cukup beragam. ISPA dan gangguan pencernaan menjadi kasus yang paling banyak ditemukan. Selain itu, kasus campak dan DBD juga tercatat mengalami peningkatan.

Erna juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mendatangi IGD rumah sakit untuk kondisi yang sebenarnya tidak termasuk kegawatdaruratan.

“Banyak juga pasien yang datang ke UGD statusnya false emergency. Pemerintah Kota Bogor menyiapkan enam puskesmas dengan layanan UGD 24 jam. Untuk kasus yang tidak gawat darurat, masyarakat bisa ke puskesmas UGD dulu,” jelasnya.

Darurat Medis? Warga Bisa Hubungi 119

Untuk membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan kegawatdaruratan, Pemkot Bogor juga menyediakan layanan PSC 119.

Layanan ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan bantuan medis darurat, termasuk ambulans beserta tenaga kesehatan.

Jika pasien membutuhkan perawatan lanjutan, petugas puskesmas akan membantu mencarikan rumah sakit yang memiliki tempat tersedia dan melakukan proses rujukan.

Sementara dalam kondisi gawat darurat, masyarakat dapat menghubungi call center 119.

Erna pun mengimbau masyarakat menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Warga diimbau untuk menjaga kesehatan dengan perilaku hidup bersih dan sehat,” pungkasnya.