POJOKBOGOR.id - Calon Wali Kota Bogor, Rena Da Frina tidak lelah turun ke lapangan untuk menyerap aspirasi masyarakat ari pintu ke pintu.
Kali ini Rena Da Frina melakukan lusukan ke Kampung Cincau, Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah.
Dalam kegiatan tersebut, Rena Da Frina berkesempatan berkenalan langsung dengan warga dan menyapa mereka dengan penuh kehangatan.
“Agenda hari ini seperti biasa, kita sosialisasi sekaligus kampanye. Kegiatan ini sudah difasilitasi oleh pengurus, jadi saya bisa berkenalan dengan warga. Sebagian sudah kenal, sebagian lainnya masih belum,” kata Rena Da Frina.
Baca Juga: Tekan Stunting, Pj Bupati Bogor Intervensi Makanan Tambahan selama 24 Hari
Rena Da Frina menjelaskan, bahwa metode kampanyenya yang konvensional, yaitu dengan door to door, dilakukan untuk memastikan bahwa setiap warga mengenal calon pemimpinnya secara langsung.
Menurut Rena Da Frina , hal ini penting agar masyarakat tidak memilih “kucing dalam karung” dan dapat menentukan pilihan mereka dengan bijak.
“Saya rasa, ada plus minusnya kampanye door to door seperti ini. Tapi, harapannya, setelah warga mengenal calon pemimpinnya, mereka bisa menentukan pilihan dengan tepat. Saya ingin mereka mengenal siapa calon pemimpinnya sebelum memilih,” tambahnya.
Selama blusukan ke beberapa wilayah, termasuk di Kampung Cingcau, Rena mencatat bahwa isu-isu utama yang dikeluhkan masyarakat meliputi akses pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.
Selain itu, khususnya bagi kaum ibu-ibu, tuntutan akan sembako murah atau bahkan sembako gratis menjadi salah satu aspirasi yang sering muncul.
Atas permasalahan tersebut, Rena juga menjelaskan beberapa program prioritas yang ditawarkannya, terutama yang berfokus pada kesejahteraan perempuan.
Baca Juga: Pemkab Bogor terus Percepat Penganekaragaman Pangan Pengganti Beras
Salah satu program unggulannya adalah pemberian insentif bagi ibu-ibu single parent atau kepala keluarga perempuan untuk berwirausaha.
“Saya melihat perempuan, terutama yang menjadi tulang punggung keluarga, perlu mendapat perhatian khusus. Mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Karena saya juga seorang perempuan dan berasal dari lingkungan rumah tangga, maka saya sangat memahami apa yang mereka butuhkan,” tegas Rena.
Program-program yang lebih pro-perempuan ini, menurutnya, merupakan hasil dari pengalamannya sendiri yang memahami situasi dan tantangan yang dihadapi perempuan, khususnya ibu rumah tangga dan kepala keluarga perempuan.
“Jadi, kalau tidak kenal maka tidak sayang, tidak sayang maka tidak akan dicoblos,” tutup Rena Da Frina.



