POJOKBOGOR.id - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong pengembangan Life Cycle Assessment (LCA) atau penilaian daur hidup dan perdagangan karbon.
Hal ini dibahas dalam acara ILCAN Conference Series on Life Cycle Assessment (ICSoLCA) ke-6, yang diselenggarakan di Auditorium Syilva, Kampus IPB University, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, pada Senin (7/10/2024).
Untuk mendukung pengembangan LCA, KLHK bekerja sama dengan Indonesian Life Cycle Assessment Network (ILCAN).
Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Sigit Reliantoro, menyampaikan bahwa metodologi LCA ini bisa diadopsi oleh perusahaan untuk memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan mereka.
Metodologi tersebut juga diintegrasikan dalam kriteria Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).
"Program penilaian kinerja perusahaan ini menilai ketaatan, termasuk inovasi yang dilakukan dalam menurunkan emisi, pengelolaan 3R, keanekaragaman hayati, dan lainnya," ujar Sigit usai acara ICSoLCA 2024.
Sigit menambahkan, ILCAN membantu KLHK memperkuat sumber daya manusia dalam implementasi LCA, dengan melibatkan perusahaan dan pemerintah daerah.
Menurutnya, banyak perusahaan telah mengadopsi LCA, yang juga menjadi bagian dari pelaporan Environmental, Social, and Governance (ESG).
"Kewajiban mendeklarasikan investasi perusahaan melalui LCA sesuai dengan taksonomi hijau. Ini membantu perusahaan bersaing di tingkat ASEAN dan global," ujar Sigit.
Sebagai contoh, Sigit menyebut pabrik baja yang berhasil mengekspor produknya ke Australia dan Selandia Baru saat pandemi COVID-19.
Kini, mereka menjajaki pasar Eropa dengan produk yang telah dihitung emisi CO2 dan toksisitasnya.
"LCA adalah alat yang luar biasa. Membantu kita fokus pada pengelolaan emisi gas rumah kaca, keanekaragaman hayati, dan toksisitas," lanjutnya.
Pada tahun 2023, sebanyak 290 perusahaan telah menerapkan LCA, dengan 75% dari mereka mengalami peningkatan peringkat dalam PROPER.
Pada 2021, hanya 25% perusahaan yang melakukan LCA secara berkala, sementara pada 2023 angka tersebut melonjak menjadi 75%.
Namun, Sigit mengakui bahwa sektor kelapa sawit masih tertinggal, dengan hanya 20 perusahaan yang melakukan LCA, dan hanya satu yang telah lengkap.
Ketua Umum ILCAN, Kiman Siregar, menuturkan bahwa konferensi ini menjadi ajang bagi para pemangku kepentingan untuk berbagi pengetahuan, hasil riset, dan pengalaman terkait implementasi LCA.
Ia berharap hasil diskusi dan rekomendasi dari konferensi ini dapat berkontribusi pada pengembangan kebijakan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di Indonesia.
“Kami mendorong agar hasil riset yang dipresentasikan dapat diimplementasikan lebih luas, serta memotivasi pelaku industri,” ujar Kiman.
Konferensi ini mengusung tema "Sustainable Future: Integrating Renewable Energy from Palm Oil, Environmental Stewardship, and Global Climate Action to Support the Implementation of Carbon Trading for National Economic Growth". (dea)




