POJOKBOGOR.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit cacingan, menyusul kasus meninggal akibat cacing gelang yang terjadi di Sukabumi baru-baru ini.

Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, menjelaskan cacingan merupakan infeksi usus akibat cacing parasit, seperti cacing gelang, cacing cambuk, maupun cacing tambang.

Penyakit ini sering dianggap sepele, padahal bisa menimbulkan dampak serius, terutama bagi anak-anak.

“Cacingan termasuk penyakit tropis terabaikan yang dapat menyebabkan perut kembung, diare, anemia, hingga menghambat tumbuh kembang anak,” ujar Retno, Rabu (20/8).

Penularan kecacingan biasanya melalui tanah, makanan, atau minuman yang terkontaminasi tinja. Bahkan, larva cacing bisa masuk lewat kulit jika seseorang tidak menggunakan alas kaki.

Masa inkubasi berlangsung 4–8 minggu sebelum gejala muncul, sehingga sering kali tidak disadari.

Menurut Retno, meski sejauh ini belum ada laporan meninggal akibat kecacingan di Kota Bogor, hasil survei parasitologi menunjukkan masih ada kasus yang perlu diwaspadai.

Survei terakhir pada 2022 menemukan tiga kasus positif cacing cambuk.

Selain itu, dari 462 ibu hamil yang diperiksa, 16 di antaranya mengalami cacingan disertai anemia, dan semuanya sudah ditangani.

Untuk mencegah penularan, Retno menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Biasakan mencuci tangan, memotong kuku, memakai alas kaki, serta pastikan makanan matang dan bersih,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan program pemberian obat cacing gratis.

Anak usia 1–12 tahun mendapat albendazole setiap Februari dan Agustus melalui sekolah maupun posyandu.

“Kami imbau warga disiplin menjaga kebersihan, rutin periksa kesehatan, dan jangan lewatkan jadwal minum obat cacing,” pungkasnya.