POJOKBOGOR.id - Seiring meningkatnya kasus Varicella (cacar air) dan Mumps (gondongan) di beberapa wilayah Indonesia, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengeluarkan imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kedua penyakit ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, MARS, memberikan penjelasan lengkap mengenai karakteristik penyakit, tren kasus di Kota Bogor, serta langkah pencegahan yang perlu dilakukan masyarakat.

Karakteristik Penyakit Varicella dan Mumps

Varicella atau cacar air adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster.

Penyakit ini mudah menyebar melalui udara dan kontak langsung dengan cairan lepuhan pada kulit penderita.

"Gejala awalnya meliputi demam yang diikuti ruam merah, yang kemudian berubah menjadi lepuhan berisi cairan," jelas dr. Sri Nowo Retno.

Pada sebagian besar kasus, cacar air dapat sembuh sendiri, namun pada bayi, orang dewasa, ibu hamil, atau mereka dengan sistem imun lemah, komplikasi serius seperti infeksi kulit hingga pneumonia dapat terjadi.

Pengobatan biasanya hanya bertujuan untuk mengurangi gejala seperti demam dan gatal.

Mumps atau gondongan, di sisi lain, disebabkan oleh virus mumps dan menyebar melalui percikan air liur.

Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak, namun orang dewasa yang belum pernah terkena atau divaksinasi juga berisiko.

"Gejala khasnya meliputi demam, sakit kepala, serta pembengkakan di sekitar pipi dan rahang akibat kelenjar parotis yang meradang," ungkapnya.

Meski mumps bisa sembuh sendiri dalam beberapa minggu, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi seperti radang testis pada laki-laki atau radang ovarium pada perempuan.

Vaksin MMR (measles, mumps, rubella) adalah pencegahan terbaik dan diberikan sejak dini.

Situasi Kasus di Kota Bogor

Dinkes Kota Bogor mencatat adanya penurunan kasus cacar air dari 362 kasus pada September menjadi 329 kasus di Oktober 2024.

Kasus gondongan sendiri tetap stabil, dengan 149 kasus pada September dan sedikit meningkat menjadi 153 kasus di Oktober.

“Di wilayah PKM Mekarwangi terdapat penemuan kasus cacar air tertinggi sebanyak 26 kasus, sedangkan kasus gondongan tertinggi berada di wilayah PKM Bondongan dengan 15 kasus,” jelas dr. Retno.

Dinkes memastikan bahwa belum ada laporan mengenai kluster penularan cacar air atau gondongan di Kota Bogor untuk periode 1-24 Oktober 2024, sehingga persebaran dianggap masih terkontrol.

Endemisitas dan Pengendalian Penyakit

Menurut Dinkes Kota Bogor, Varicella dan Mumps adalah penyakit endemis di Indonesia, yang berarti kasusnya cenderung stabil tanpa lonjakan besar dan tidak masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Mumps dan varicella dianggap memiliki dampak kesehatan masyarakat yang lebih rendah dibandingkan penyakit lain seperti DBD atau difteri, sehingga tidak dimasukkan dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” tambah dr. Retno.

Penyakit yang dipantau ketat dalam SKDR umumnya adalah penyakit dengan risiko tinggi untuk menjadi wabah serius, menyebabkan kematian atau komplikasi berat.

Sementara itu, mortalitas akibat mumps dan varicella relatif rendah dan penyebarannya terbatas, sering kali terjadi pada anak-anak di sekolah.

Pengendalian keduanya dilakukan secara rutin oleh puskesmas melalui tindakan kuratif terhadap setiap kasus yang muncul.

Himbauan kepada Masyarakat

Dinkes Kota Bogor mengimbau masyarakat untuk menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan diri, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Selain itu, masyarakat diharapkan melaporkan diri ke petugas kesehatan di puskesmas atau rumah sakit jika mengalami gejala yang mirip dengan cacar air atau gondongan.

“Jika ada gejala, sebaiknya menahan diri untuk tidak bersekolah atau bekerja guna meminimalkan penularan kepada orang lain,” ujar dr. Retno.

Dinas Kesehatan Kota Bogor berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kasus dan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan pengendalian penyakit menular di wilayahnya.

“Mari kita bersama-sama berperan dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan, agar penularan penyakit bisa ditekan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga,” pungkas dr. Sri Nowo Retno.***