POJOKSATU.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, memastikan telah mengirimkan sampel sisa makanan untuk diuji laboratorim. Terutama makanan yang diduga menyebabkan 55 murid keracunan di asrama milik Yayasan Marsudirini, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (19/2).

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Bogor, Adang Mulyana menjelaskan, pihaknya mengirim sampel makanan untuk diperiksa Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta.

"Hari ini tim turun. Untuk pasien yang gejala keracunan sudah pulang semua. Sampel dari kemarin sudah diamankan. Biasanya waktu yang dibutuhkan agak lama untuk mengetahui hasilnya. Karena harus melalui proses pembiakan untuk mengeluarkan bakterinya," kata Adang, Selasa (21/2).

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 55 murid asrama di Yayasan Marsudirini, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, mengalami keracunan makanan, usai mengonsumsi beberapa jenis makanan, usai mengikuti kegiatan di asrama tersebut pada Sabtu (18/2). Seluruh murid mengalami mual hingga muntah yang baru dirasakan Senin (20/2).

Penanggungjawab Yayasan Marsudirini Perwakilan Bogor, Helena membenarkan peristiwa ini. Menurutnya, usai mengikuti kegiatan peserta acara tidak ada mengalami gejala keracunan apapun dari makanan yang disiapkan yayasan, seperti shabu-shabu, es doger maupun pizza.

"Jadi anak-anak mengonsumsi shabu-shabu dan kemudian malamnya itu dapat es doger yang kami pesan dan ada yang memberi pizza. Sampai Minggu itu tidak ada keluhan," kata Helena.

Para murid pun sempat memakan soto, ayam goreng dan hidangan lainnya. Namun, pada Minggu (19/2) pukul 23.30 WIB beberapa murid mengeluhkan rasa mual yang dialaminya, kemudian diberikan susu oleh pihak yayasan. Namun, pada Senin (20/2) pagi, semakin banyak yang mengeluhkan hal sama.

"Awalnya ada anak yang mual sekitar tujuh anak dan kami tangani diberikan susu dulu. Namun, tadi pagi nambah jumlah murid yang mengalami mual langsung membawa ke rumah sakit untuk penanganannya," jelas Helena.

Helena mengungkapkan, dari 91 murid peserta kegiatan, 55 di antaranya mengeluhkan mual, pusing hingga muntah. Meski begitu, dia memastikan seluruhnya telah ditangani di rumah sakit. Hingga kini, hanya tersisa tiga orang masih dalam perawatan.

"Yang tiga orang masih dirawat. Tinggal observasi. Yang dirawat itu dua perempuan dan satu laki-laki. Tentu ini jadi pelajaran buat kami dalam menjaga kebersihan makanan kepada murid," kata dia.

(Rishad Noviansyah)