POJOKBOGOR.id – Aksi demonstrasi mahasiswa yang digelar di depan Balaikota Bogor, Kamis (21/8), berujung ricuh.

Massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bogor bersitegang dengan aparat keamanan yang berjaga ketat.

Kericuhan pecah ketika mahasiswa mencoba menerobos masuk ke dalam Balaikota untuk bertemu langsung dengan Wali Kota Bogor.

Namun, upaya itu terhalang pagar betis petugas, hingga terjadi aksi saling dorong.

Tak berhasil masuk, massa kemudian melampiaskan kekecewaannya dengan membakar sebuah maskot berbentuk orang-orangan sawah di depan Balaikota.

Tidak berhenti di situ, tembok Balaikota juga menjadi sasaran.

Dengan cat pilox merah, mereka mencorat-coret berbagai tulisan berisi aspirasi dan kritik terhadap Pemkot Bogor.

Ketua DPC GMNI Kota Bogor, Yunandra Soswakil, menegaskan pihaknya membawa dua tuntutan utama.

Pertama, meminta Pemkot bertanggung jawab atas tragedi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga yang merenggut nyawa seorang petugas DLH.

“Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi kegagalan pengelolaan. Nyawa melayang karena kelalaian sistematik,” tegasnya.

Kedua, GMNI juga menyoroti persoalan utang yang menjerat manajemen RSUD Kota Bogor.

Yunandra menilai hal itu mencerminkan lemahnya tata kelola pemerintahan.

Ia memperingatkan, jika dua tuntutan tersebut tidak segera dituntaskan, GMNI siap menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa lebih besar.

“Segera lakukan reformasi birokrasi dan wujudkan good governance di tubuh Pemerintah Kota Bogor,” tandasnya.