POJOKBOGOR.ID - Perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh di Kota Bogor bukan sekadar agenda tahunan yang meriah.
Di balik gemerlap lampion merah dan arak-arakan barongsai, tersimpan jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan Kota Hujan sejak era kolonial.
Kawasan Jalan Suryakencana menjadi saksi hidup bagaimana tradisi tersebut tumbuh, beradaptasi, dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Baca Juga: Pertalite Didtuga Tercampur Air, Belasana Kendaraan di Bogor Mogok Setelah Isi BBM di Parung Panjang
Di sanalah berdiri Klenteng Dhanagun atau Hok Tek Bio, salah satu klenteng tertua di Bogor yang menjadi pusat spiritual sekaligus budaya.
Jejak Komunitas Tionghoa Sejak Masa Kolonial
Keberadaan komunitas Tionghoa di Bogor telah tercatat sejak masa pemerintahan kolonial Belanda.
Saat itu, Bogor yang dikenal sebagai Buitenzorg berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perkebunan.
Baca Juga: Pertalite Didtuga Tercampur Air, Belasana Kendaraan di Bogor Mogok Setelah Isi BBM di Parung Panjang
Banyak warga Tionghoa yang berperan dalam sektor perdagangan dan distribusi kebutuhan masyarakat.
Kawasan Suryakencana kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus permukiman komunitas Tionghoa.
Di tengah dinamika tersebut, tradisi Imlek tetap dijaga sebagai identitas budaya.
Baca Juga: Takut Terkena Ganjil Genap di Jalur Puncak Bogor, Ini Jalan Alternatif yang Paling Aman dan Lancar
Perayaan dilakukan secara sederhana, berpusat di klenteng, dan menjadi momen berkumpulnya keluarga besar.
Klenteng Dhanagun, Ikon Sejarah dan Spiritualitas
Klenteng Dhanagun diyakini telah berdiri sejak abad ke-18.
Bangunan ini menjadi salah satu klenteng tertua di Jawa Barat dan masih aktif digunakan hingga kini.
Arsitekturnya yang khas dengan ornamen naga dan warna merah mencolok menjadi daya tarik tersendiri.
Baca Juga: 341 Pelajar Mulai Ikuti Latihan Gabungan dan Sosialisasi Seleksi Paskibraka Kota Bogor 2026
Setiap menjelang Imlek, klenteng ini dipenuhi umat yang datang untuk berdoa dan memanjatkan harapan.
Di sinilah sejarah dan tradisi bertemu.
Dari generasi ke generasi, nilai-nilai budaya diwariskan melalui ritual sembahyang, penyalaan dupa, hingga tradisi berbagi angpao.
Cap Go Meh, Dari Ritual Sakral ke Festival Budaya
Cap Go Meh yang berarti malam ke-15 dalam dialek Hokkien awalnya merupakan ritual penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.
Baca Juga: Skema Fully Funded 2026, Benarkah Pensiunan ASN Bisa Terima Hingga Rp1 Miliar? Ini Penjelasannya
Namun di Bogor, perayaan ini berkembang menjadi festival budaya terbuka.
Arak-arakan budaya, pertunjukan barongsai dan liong, hingga tradisi Gotong Toapek menjadi ciri khas Cap Go Meh Bogor.
Tradisi ini menunjukkan akulturasi budaya Tionghoa dan lokal yang harmonis.
Baca Juga: 341 Pelajar Mulai Ikuti Latihan Gabungan dan Sosialisasi Seleksi Paskibraka Kota Bogor 2026
Pada masa-masa tertentu dalam sejarah Indonesia, perayaan Imlek sempat mengalami pembatasan.
Namun setelah kebijakan yang lebih terbuka diberlakukan, tradisi ini kembali dirayakan secara luas.
Kembalinya perayaan Imlek secara terbuka menjadi momentum penting bagi komunitas Tionghoa di Bogor untuk menegaskan identitas sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Identitas Kota yang Beragam
Kini, Imlek dan Cap Go Meh tidak lagi hanya menjadi perayaan komunitas tertentu.
Ia telah menjadi bagian dari kalender budaya Kota Bogor yang dinantikan masyarakat luas.
Ribuan warga dari berbagai latar belakang memadati Suryakencana setiap Cap Go Meh.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi simbol kebersamaan.
Pemerintah daerah pun memasukkan Cap Go Meh sebagai agenda wisata tahunan.
Dukungan pengamanan, pengaturan lalu lintas, hingga promosi menjadi bukti bahwa perayaan ini memiliki nilai strategis.
Selain memperkuat identitas budaya, Cap Go Meh juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
UMKM dan pelaku usaha lokal memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan penjualan.
Warisan yang Terus Dijaga
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi Imlek dan Cap Go Meh tetap dijaga oleh komunitas Tionghoa Bogor.
Baca Juga: Takut Terkena Ganjil Genap di Jalur Puncak Bogor, Ini Jalan Alternatif yang Paling Aman dan Lancar
Generasi muda dilibatkan dalam pertunjukan budaya dan kegiatan sosial.
Klenteng Dhanagun tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang dialog budaya. Dari sana, pesan toleransi dan harmoni terus digaungkan.
Perjalanan panjang Imlek dan Cap Go Meh di Kota Bogor membuktikan bahwa budaya dapat bertahan ketika dirawat bersama.
Dari era kolonial hingga kini, tradisi tersebut tetap hidup, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kota Hujan.
Semarak lampion yang menerangi Suryakencana setiap tahun bukan sekadar hiasan.
Ia adalah simbol sejarah, kebersamaan, dan harapan yang terus menyala di tengah keberagaman Kota Bogor.***




