PojokBogor.Id - Jagung bakar, bandrek, kopi panas, hingga mi instan rebus sering dianggap sebagai pengeluaran kecil saat liburan Tahun Baru di Puncak Bogor.
Harganya terlihat tidak terlalu mahal, porsinya sederhana, dan pembeliannya pun spontan.
Namun banyak wisatawan baru menyadari satu hal setelah liburan usai pengeluaran kuliner justru menjadi salah satu pos biaya terbesar, meski hanya diisi jajanan ringan.
Baca Juga: Tak Lagi Gelap dan Rawan Begal, Jalan Bomang Bogor Kini Dipasangi 316 Titik PJU
Fenomena ini terjadi hampir setiap Tahun Baru, terutama di kawasan Puncak yang dingin dan padat wisatawan.
Jajan Kecil yang Terlihat Aman di Awal
Sebagian besar wisatawan tidak memasukkan jagung bakar atau minuman hangat sebagai pos biaya besar.
Dalam perencanaan awal, jajanan seperti ini dianggap pelengkap perjalanan.
Baca Juga: Telan Anggaran Hingga Rp342 Juta, JPO Paledang Bogor Siap Segera Dibongkar!
Masalahnya, karena terlihat kecil, pengeluaran ini jarang dikontrol.
Wisatawan cenderung berpikir, “cuma segini,” tanpa menghitung akumulasi dalam satu malam.
Faktor Dingin Membuat Jajan Berulang
Udara Puncak saat malam Tahun Baru bisa sangat dingin. Kondisi ini mendorong wisatawan untuk terus mencari sesuatu yang hangat.
Satu kali membeli bandrek sering berlanjut dengan:
-
Kopi panas di titik berikutnya
Baca Juga: Titik Lokasi Operasi Lilin Lodaya 2025 yang Bakal Terjadi di Kota Bogor
-
Jagung bakar saat berhenti lagi
-
Mi instan ketika lapar tengah malam
Frekuensi inilah yang membuat jajan kecil berubah menjadi pengeluaran besar.
Macet Panjang, Lapar Datang Lebih Cepat
Kemacetan di jalur Puncak menjadi pemicu lain membengkaknya biaya jajan. Waktu tempuh yang molor membuat jadwal makan berantakan.
Akibatnya:
-
Wisatawan lebih sering ngemil
-
Anak-anak minta jajan tambahan
Baca Juga: Keganasan 3 Siklon Mulai Terlihat di Bogor, 7 Rumah Rusak Parah Diterjang Angin Puting Beliung
-
Jajanan menjadi pengganti makan utama
Dalam kondisi ini, jajan bukan lagi soal selera, tapi kebutuhan.
Harga Terasa “Nanggung”, Tapi Terus Dibeli
Harga jajanan di Puncak saat Tahun Baru sering berada di posisi “nanggung”.
Baca Juga: Keganasan 3 Siklon Mulai Terlihat di Bogor, 7 Rumah Rusak Parah Diterjang Angin Puting Beliung
Tidak cukup mahal untuk ditolak, tapi juga tidak cukup murah jika dibeli berulang kali.
Karakter harga seperti ini membuat wisatawan jarang berhenti membeli.
Tanpa disadari, uang yang keluar sedikit demi sedikit justru lebih besar dibanding satu kali makan berat.
Efek Psikologis Liburan
Saat liburan, banyak orang lebih permisif terhadap pengeluaran. Apalagi di momen spesial seperti Tahun Baru, membeli jajanan dianggap bagian dari pengalaman.
Pola pikir “liburan setahun sekali” membuat kontrol belanja melemah.
Hal ini semakin diperkuat oleh suasana ramai dan dingin khas Puncak.
Ketika Dihitung Ulang, Baru Terasa Berat
Perasaan kaget biasanya muncul setelah wisatawan menghitung sisa uang atau mengecek catatan pengeluaran. Banyak yang merasa heran karena:
-
Tidak masuk banyak tempat wisata berbayar
-
Tidak makan di restoran mahal
Baca Juga: Operasi Lilin Lodaya 2025 di Kota Bogor Resmi Dimulai
-
Hanya jajan sederhana
Namun akumulasi jajan kecil itulah yang menjadi jawabannya.
Cara Menekan Biaya Jajan Saat Tahun Baru
Agar jajan tidak menjadi sumber kebocoran budget, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
-
Tetapkan batas maksimal untuk jajanan
-
Beli jajan dalam satu waktu, bukan berkali-kali
-
Bawa minuman hangat dari penginapan
-
Bedakan antara lapar dan sekadar ingin ngemil
Disiplin kecil ini bisa membuat perbedaan besar pada total pengeluaran.
Jajan kecil di Puncak Bogor saat Tahun Baru memang sulit dihindari.
Udara dingin dan perjalanan panjang membuat jagung bakar, bandrek, dan kopi panas terasa sangat menggoda.
Namun tanpa kontrol, jajanan sederhana ini bisa menjadi penyebab utama membengkaknya biaya liburan.
Kesadaran sejak awal menjadi kunci agar pengalaman liburan tetap hangat tanpa meninggalkan rasa penyesalan di akhir.***




