BOGOR.POJOKSATU.id – Dampak kemarau panjang di Bogor semakin mudah terlihat. Bukan hanya Sungai Cileungsi di Kabupaten Bogor yang mengalami penyusutan, kondisi Sungai Ciliwung yang membelah pusat Kota Bogor juga mulai memprihatinkan.

Pantauan pada Rabu, 16 September 2026 menunjukkan debit air Ciliwung menyusut drastis di sejumlah titik.

Kondisi tersebut terlihat mulai dari kawasan Jembatan Jambu Dua, Jembatan Sempur hingga Jembatan Otista.

Batu-batu berukuran besar yang biasanya tertutup aliran air kini terlihat jelas. Di beberapa bagian, aliran Ciliwung tampak semakin tipis dan menyisakan jalur air di antara bebatuan.

Pemandangan tersebut cukup mencolok mengingat Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai utama yang melintasi Kota Bogor.

Penyusutan debit terjadi di tengah kondisi kemarau yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Jawa.

BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga Dasarian I September 2026. Sebanyak 1.637 titik bahkan mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem atau lebih dari 60 hari berturut-turut, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan termasuk Pulau Jawa.

BMKG juga menempatkan Kabupaten Bogor dalam kategori Awas kekeringan meteorologis pada Dasarian II September 2026.

Secara nasional, musim kemarau 2026 juga diprediksi lebih kering dibanding kondisi normal di sebagian besar Zona Musim. BMKG sebelumnya menyebut fenomena El Niño berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Menyusutnya Ciliwung tidak hanya menjadi pemandangan yang berbeda bagi warga, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dampak kemarau kini semakin nyata di kawasan Bogor.

Jika kondisi tanpa hujan terus berlangsung, debit sungai berpotensi semakin menurun.***