POJOKBOGOR.id - Meski wilayah Bogor (baik Kota maupun Kabupaten) saat ini berstatus nihil kasus rabies pada manusia, namun tetap dikategorikan sebagai daerah rawan atau berisiko tinggi.

Hal ini karena Bogor berbatasan langsung dengan daerah endemis penular rabies seperti Kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Lebak.

Pemerintah setempat menempatkan status waspada mengingat letak geografis Bogor yang bersebelahan dengan wilayah yang masih belum bebas rabies.

Kendati begitu, apabila terjadi kasus digigit anjing rabies, bisa segera mencuci luka gigitan dengan sabun di bawah air mengalir selama minimal 10-15 menit untuk membunuh virus.

Setelah itu, beri antiseptik (seperti povidone iodine atau alkohol 70%) dan segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat (Puskesmas atau Rumah Sakit) untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR)

Namun demi memitigasi terjadinya kasus tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor bersama Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) menggelar lokakarya di Aula Gedung PSC 119 Lantai 2, Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Lokakarya tersebut diikuti tenaga kesehatan, akademisi, perangkat daerah, media, serta berbagai pemangku kepentingan. Fokus pembahasan meliputi sistem deteksi dini, komunikasi risiko kepada masyarakat, hingga mekanisme penanganan cepat apabila ditemukan kasus.

Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCI), Rizky Ka Syafitri, menegaskan bahwa upaya pengendalian penyakit tidak bisa dilakukan ketika wabah sudah terjadi. Menurutnya, seluruh sistem harus dipersiapkan sejak dini agar setiap pihak memahami peran masing-masing.

“Tujuan kegiatan ini adalah bagian dari upaya kesiapsiagaan Dinkes untuk mengantisipasi penyakit-penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menjadi wabah. Persiapan harus dilakukan sebelum ada kasus maupun sebelum penyebaran terjadi,” ujar Rizky, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, kesiapan tersebut mencakup peningkatan kapasitas petugas, koordinasi antarlembaga, hingga penyediaan informasi yang mudah diakses masyarakat. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila ditemukan indikasi penyebaran penyakit.

Selain itu, ia menilai edukasi masyarakat menjadi salah satu kunci utama pencegahan. Warga diharapkan memahami cara melindungi diri, mengenali gejala penyakit, mengetahui langkah yang harus dilakukan saat menemukan dugaan kasus, serta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia.

“Yang paling penting adalah masyarakat tahu bagaimana mencegah, apa yang harus dilakukan jika terjadi kasus, ke mana harus berobat, dan di mana mendapatkan vaksin apabila diperlukan,” katanya.

Dalam lokakarya tersebut, sejumlah penyakit zoonotik yang menjadi perhatian antara lain rabies, flu burung, antraks, dan leptospirosis.

Dinkes mengingatkan bahwa penyakit-penyakit tersebut memiliki potensi penyebaran yang tinggi apabila pengawasan dan pelaporan tidak dilakukan secara optimal.

Rizky menyebut leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai saat musim hujan karena dapat menular melalui air yang terkontaminasi urine tikus. Sementara rabies, flu burung, dan antraks juga membutuhkan pengawasan berkelanjutan agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.

“Kalau tidak dipersiapkan sejak dini, ketika wabah terjadi semua akan gagap. Penularannya bisa berlangsung sangat cepat sehingga sistem harus dibangun lebih dulu agar semua sektor sudah siap ketika ada kasus,” jelasnya.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Dinkes Kota Bogor dengan Portal Kesehatan Masyarakat (Porkesmas) yang tergabung dalam Pokja RCCI, sebuah kelompok kerja yang dibentuk sejak pandemi COVID-19 untuk memperkuat komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat dalam menghadapi ancaman kesehatan

Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCI), Rizky Ka Syafitri, mengatakan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia sebelum berkembang menjadi wabah.

Tak hanya rabies, penyakit menular dari hewan ke manusia atau zoonotic harus dilakukan upaya pengendalian harus dilakukan sebelum menjadi wabah.

Menurutnya, seluruh sistem harus dipersiapkan sejak dini agar setiap pihak memahami peran masing-masing.

“Tujuan kegiatan ini adalah bagian dari upaya kesiapsiagaan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menjadi wabah. Persiapan harus dilakukan sebelum ada kasus maupun sebelum penyebaran terjadi,” ujar Rizky.

Selain itu, ia menilai edukasi masyarakat menjadi salah satu kunci utama pencegahan. Warga diharapkan memahami cara melindungi diri, mengenali gejala penyakit, mengetahui langkah yang harus dilakukan saat menemukan dugaan kasus, serta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia.

“Yang paling penting adalah masyarakat tahu bagaimana mencegah, apa yang harus dilakukan jika terjadi kasus, ke mana harus berobat, dan di mana mendapatkan vaksin apabila diperlukan,” katanya.

Dalam lokakarya tersebut, sejumlah penyakit zoonotik yang menjadi perhatian antara lain rabies, flu burung, antraks, dan leptospirosis.

Dinkes mengingatkan bahwa penyakit-penyakit tersebut memiliki potensi penyebaran yang tinggi apabila pengawasan dan pelaporan tidak dilakukan secara optimal.

Rizky menyebut leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai saat musim hujan karena dapat menular melalui air yang terkontaminasi urine tikus. Sementara rabies, flu burung, dan antraks juga membutuhkan pengawasan berkelanjutan agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.

“Kalau tidak dipersiapkan sejak dini, ketika wabah terjadi semua akan gagap. Penularannya bisa berlangsung sangat cepat sehingga sistem harus dibangun lebih dulu agar semua sektor sudah siap ketika ada kasus,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar hanya mengakses informasi kesehatan dari sumber resmi serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Di sisi lain, peternak diminta segera melaporkan kepada petugas Kesehatan Hewan (Keswan) apabila menemukan hewan mati mendadak, terutama dalam jumlah banyak, sehingga investigasi dapat segera dilakukan dan risiko penularan dapat ditekan.

"Kalau ada hewan mati mendadak dalam jumlah besar harus segera dilaporkan ke Keswan. Pengawasan terhadap peternakan juga terus dilakukan secara berlapis melalui monitoring rutin petugas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pencegahan penyakit zoonotik membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers, untuk menyampaikan informasi secara cepat dan akurat ketika menemukan indikasi kasus di lapangan.

“Kalau ada kasus seperti itu dan tidak segera dilaporkan, risikonya bukan hanya ditanggung peternak, tetapi juga masyarakat luas. Karena itu warga maupun wartawan juga bisa ikut melaporkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” pungkasnya.