BOGOR.POJOKSATU.id - Aktivitas kegempaan di Jawa Barat kembali menjadi sorotan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 29 kali gempa susulan pasca-gempa utama berkekuatan M 4,0 yang mengguncang wilayah Sukabumi dan Bogor.
Kejadian ini memunculkan pertanyaan di masyarakat, apakah fenomena gempa susulan ini merupakan pertanda akan terjadinya gempa yang lebih besar?
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa aktivitas susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa utama.
“Update gempa bumi susulan Sukabumi-Bogor M 4,0 per 20 September 2025. Jumlah events gempa susulan 29 kali,” ujarnya.
Ia menambahkan, gempa susulan terbesar mencapai M 3,8 dan yang terkecil M 1,9, dengan empat di antaranya dirasakan oleh masyarakat di sekitar Sukabumi dan Bogor.
BMKG mengungkapkan bahwa gempa yang mengguncang Sukabumi dan Bogor merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG menyimpulkan gempa tersebut termasuk kategori tektonik yang dangkal, sehingga getarannya terasa lebih jelas meskipun magnitudonya tidak besar.
Episenter gempa berada di koordinat 6,75 Lintang Selatan dan 106,58 Bujur Timur, tepatnya 26 kilometer timur laut Kabupaten Sukabumi, dengan kedalaman 8 kilometer.
Daryono menegaskan bahwa rangkaian gempa susulan seperti ini bukanlah hal yang harus diartikan sebagai tanda akan datangnya gempa besar. Menurutnya, gempa susulan justru menunjukkan bahwa sistem patahan sedang melepaskan energi secara bertahap.
“Gempa susulan pada dasarnya merupakan pelepasan energi sisa setelah gempa utama. Tidak semua rangkaian gempa susulan berakhir dengan gempa yang lebih besar. Mayoritas justru berhenti setelah beberapa waktu,” jelasnya.
Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar selalu waspada. Aktivitas sesar aktif di Jawa Barat memang masih berpotensi memicu gempa, namun sejauh ini belum ada indikator ilmiah yang menunjukkan akan terjadi gempa besar susulan.
Warga diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mudah terpengaruh kabar atau isu yang belum terverifikasi di media sosial.
Para pakar geologi juga menyampaikan pandangan serupa. Fenomena gempa susulan adalah proses alamiah yang kerap terjadi setelah gempa utama.
Sesar-sesar aktif di Jawa Barat, termasuk yang berada di Sukabumi dan Bogor, memang memiliki sejarah aktivitas tektonik yang cukup tinggi.
Namun tanpa pemantauan ilmiah dan data lengkap, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa rangkaian gempa ini adalah pertanda gempa besar.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan memeriksa kembali kesiapan rumah terhadap gempa, memastikan jalur evakuasi, dan menyimpan perlengkapan darurat seperti senter, obat-obatan, dan air minum.
Langkah-langkah sederhana ini penting untuk mengurangi risiko jika sewaktu-waktu gempa kembali terjadi.
Hingga kini BMKG belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan maupun korban akibat rangkaian gempa tersebut.
Aparat setempat bersama masyarakat diharapkan tetap menjaga ketenangan dan bekerja sama dalam mengantisipasi dampak lanjutan.
Informasi yang tepat dan kesiapsiagaan menjadi kunci agar masyarakat lebih aman dan tenang menghadapi dinamika alam seperti gempa bumi. ***


