POJOKBOGOR.id – Pemkot Bogor mempercepat langkah perlindungan masyarakat menghadapi sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebanyak 190.150 masker medis disiapkan dan didistribusikan secara bertahap hingga tingkat posyandu.

Distribusi masker dilakukan melalui kantor kecamatan se-Kota Bogor, kemudian diteruskan ke kelurahan, puskesmas, hingga posyandu di masing-masing RW. Pemkot memastikan pembagian masker tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi diprioritaskan bagi warga yang dinilai paling rentan terhadap paparan abu vulkanik.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan kelompok prioritas tersebut meliputi lansia, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, serta warga yang memiliki kerentanan atau riwayat penyakit saluran pernapasan.

“Yang sudah jelas itu lansia, pekerja di lapangan, dan warga yang rentan atau memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan. Sehingga harus langsung menyentuh masyarakat tersebut,” kata Jenal setelah memimpin rapat teknis distribusi masker di Balai Kota Bogor, Senin (7/9/2026).

Jenal meminta masyarakat yang membutuhkan masker untuk mendatangi titik distribusi yang telah disiapkan pemerintah. Warga dapat memperoleh masker melalui kantor kecamatan maupun posyandu di wilayah masing-masing.

Kasus Gangguan Kesehatan Dipantau 25 Puskesmas

Di sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor terus memantau dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan warga melalui surveilans harian di 25 puskesmas.

Pemantauan dilakukan terhadap enam indikator penyakit yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik, yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, konjungtivitis, dan dermatitis.

Kepala Dinkes Kota Bogor, Erna Nuraena, mengatakan secara keseluruhan jumlah kasus pada enam indikator tersebut mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.

“Dari 1.849 kasus pada 31 Agustus 2026 menjadi 1.669 kasus pada 7 September 2026. Namun, dua indikator yang relevan dengan pajanan abu vulkanik, yaitu PPOK, naik dari 24 menjadi 31 kasus dan konjungtivitis atau iritasi mata naik dari 30 menjadi 36 kasus,” jelas Erna.

Menurut Erna, kenaikan kasus PPOK dan konjungtivitis tersebut terkonsentrasi di sejumlah wilayah kerja puskesmas, di antaranya Pulo Armyn, Mekarwangi, dan Gang Kelor.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Dinkes meningkatkan intensitas surveilans di wilayah terkait. Ketersediaan obat dan alat pelindung diri (APD) di seluruh puskesmas juga dipastikan tetap terpenuhi.

Edukasi dan komunikasi risiko kepada masyarakat turut diperkuat agar warga memahami langkah perlindungan diri selama terjadi paparan abu vulkanik.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Selain pembagian masker, Pemkot Bogor mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker dan pelindung mata untuk mengurangi risiko paparan abu.

“Pemerintah Kota Bogor mengimbau warga tetap tenang namun waspada, mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar,” ujar Erna.

Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan, mata merah dan terasa perih, maupun iritasi pada kulit.

Sementara untuk kondisi gawat darurat, masyarakat dapat menghubungi Call Center 119.

Pemkot Bogor memastikan langkah penanganan dan perlindungan masyarakat akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.