BOGOR.POJOKSATU.id - Setelah terjadi di Cianjur, keracunan masal pada program MBG justru kini menimpa banyak pelajar di Kota Bogor. Setidaknya ada 36 siswa SD dan SMP di Tanah Sareal yang mengalami keracunan.

Keracunan pada banyak pelajar itu terjadi ketika mereka telah mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bina Insani Tanah Sareal.

Mendengar kejadian tersebut, Walikota Bogor Dedie Rachim akhirnya angkat bicara, dirinya dengan tegas meminta Dinas Kesehatan menguji sampel sisa makanan hingga tempat makanan yang digunakan para pelajar.

"Saya menugaskan Kadinkes untuk melihat sample dari bahan bahan bakunya, kemudian juga sample sisa makanan dan juga muntahan. Tetapi juga kita kadang kadang harus juga memperhatikan kebersihan dari tempat makannya," ungkap Dedie.

Dia menjelaskan, kejadian keracunan masal ini sudah termasuk kejadian luar biasa (KLB) dan turut prihatin dengan kejadian ini.

"Yang pasti kami merasa prihatin dengan kejadian KLB, kejadian luar biasa. Keracunan yang menimpa anak anak siswa di lingkungan Tanahsareal, sumbernya dari SPPG Bina Insani yang tentunya kita harus lihat lebih mendalam," tambahnya.

Akibat adanya kejadian berbahaya ini dirinya memastikan akan melakukan evaluasi besar, agar peristiwa serupa tidak terjadi dan menimpa para siswa di Bogor lagi.

"Ini juga harus menjadi bahan evaluasi dan ke depan tidak boleh terjadi lagi. Karena kan anak-anak ini kan sudah merasa senang, gembira, sudah mendapat makan bergizi gratis."

"Tetapi juga kita harus dapat pastikan bahwa makanan yang mereka terima itu harus memenuhi syarat syarat, selain gizi juga kebersihan dan kesehatan," tutup Dedie dengan nada tegas.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif nasional yang diluncurkan oleh pemerintah Indonesia mulai Januari 2025.

Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan status gizi masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah dan kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyusui.

Program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045, yaitu generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

Pada tahap awal, program ini menyasar sekitar 3 juta penerima manfaat yang terdiri dari siswa TK, SD, SMP, SMA, hingga santri di pesantren yang ada di Bogor dan seluruh Indonesia. ***