POJOKSATU.id, BOGOR - Program pendidikan yang dicetuskan oleh bakal calon Wali Kota Bogor dr Raendi Rayendra mendapat apresiasi dari dosen UI dan IPB, Sugeng Budiharsono.
Beberapa program pendidikan yang dicanangkan Raendi Rayendra di antaranya mutasi kepala sekolah dan guru secara periodik, sister school, BOS khusus pelatihan, dan internet gratis untuk sekolah.
Salah satu program yang perlu mendapatkan perhatian adalah sister school. Program ini sudah berjalan di beberapa sekolah favorit, tinggal diintensifkan saja.
Baca Juga: KH Asep Maoshul Affandy Deklarasi Dukung Penuh Dokter Rayendra Maju Pilwalkot Kota Bogor
Sugeng mengatakan ketika dia menjabat sebagai ketua komite SMPN 1 Bogor, program sister school atau pertukaran pelajar dan guru dilakukan dengan beberapa sekolah di luar negeri.
"Saya sudah melakukannya di SMPN 1 Bogor waktu jadi komite. Bahkan merubah wajah kumuh SMPN 1 jadi keren, melakukan pertukaran pelajar dan guru di Amerika Setikat, Hungaria, Jepang, China, Malaysia dan Singapura," jelas Sugeng.
Selain sister school, Sugeng mengapresiasi tekad dokter Rayendra yang ingin menyediakan akses internet gratis bagi sekolah.
Baca Juga: PCNU Kota Bogor Puji Dokter Rayendra, Sindir Bima Arya
"Jaringan internet gratis yang cepat saat ini merupakan suatu keniscayaan bagi siswa dan guru. Jadi bukan hanya sekedar ada jaringan internet tapi lelet. Itu sama saja tak berguna," jelas Sugeng.
Dosen pasca sarjana ini juga mengingatkan pentingnya memperhatian ekosistem pendidikan.
Menurut Sugeng, ada beberspa hal yang harus diperhatikan dalam membangun ekosistem pendidikan dasar dan menengah, yakni:
Baca Juga: 5 Program Pendidikan Jadi Prioritas Dokter Rayendra di Kota Bogor, Ada Internet Gratis
1. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Nyaman dan Asri
Menurut Sugeng, lingkungan yang nyaman dimulai dengan bangunan sekolah yang layak. Sistem udara ruang kelas yang nyaman. Sehingga siswa dan guru dapat melaksanakan belajar dengan baik.
Selain itu, kata dia, tentu harus dilengkapi laboratorium yang memadai dan lengkap, perpustakaan ofline dan online, sarana dan prasarana olahraga, kantin sekolah yang bersih, dan toilet yang bagus dan bersih.
2. Substansi dan Metode Pembelajaran
Sugeng menjelaskan, substansi yang berupa muatan lokal seyogysnya kalau bisa yang bersifat universal, yaitu seni dan budaya lokal, baik untuk mata pelajaran maupun kegiatan ekstra kurikuler sekolah karena ini akan mengasah otak kanan siswa.
Selain itu, penguasaan seni dan budaya lokal akan memberikan kemampuan kepada siswa untuk betkiprah bukan hanya dalam pendidikan tapi juga seni dan budaya. Hal ini akan menguntungkan bagi siswa untuk jenjang pendidikan selanjutnya
"Metode pembelajaran juga jangan hanya untuk pembelajaran otak kiri tapi juga otak kanan. Ini berimplikasi kepada guru-guru untuk menguasai pembelajaran otak kanan ini," katanya.
3. Guru dan Kepala Sekolah yang Berkompetansi
Guru memegang peranan penting dalam menghasilkan lulusan berkualitas. Maka kewajiban dari pemetintsh daerah untuk meningkatkan kualitas guru baik melalui pendidikan dan pelatihan.
"Guru yang belum S1, disekolahkan agar memperoleh gelar S1. Demikian juga yang sudah S1 didorong agar memperoleh gelar S2," ujar Sugeng.
Menyekolahkan guru ini suatu investasi yang sangat berharga. Mereka yang diutamakan yang berprestasi dan masih muda (di bawah 40 tahun), sehingga mereka memiliki pengabdian yang masih panjang.
Pada sisi lain, kepala sekolah harus memiliki kompetensi dalam mengelola sekolah yang baik. Selain kompetensi manajemen, juga memiliki kepemimpinan (leadership).
"Sifat kepemimpinan yang harus dimiliki seorang kepala sekolah adalah dapat dipercaya, melayani (servant leafership), lincah (agile), dan inovatif," jelasnya.
4. Komite Sekolah
Komite Sekolah sebagai salah satu aktor ekosistem pendidikan, perlu memberikan nilai tambah. Komite Sekolah dapat sebagai fund raiser, melalui crowd funding dari masyarskat atau CSR perusahaan tempatan.
"Komite sekolah agar dipercaya masyarakat, harus mengelola dana dari masyarakat dengan transparan. Bahkan apabila dimungkinkan diaudit dan ditampilkan di website komite sekolah," imbuhnya.
Dana dari masyarakat selain untuk merenovasi bangunan, memberikan untuk kegiatan siswa, beasiswa kepada siswa tidak mampu, kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, dan memberikan beasiswa untuk S1 dan S2 guru dan kependidikan.
5. Kolaborasi dan Jejaring
Kolaborasi dan mengadakan jejaring antar sekolah baik di dalam negeri maupun luar negeri merupakan suatu keniscayaan.
"Saya sebagai ketua komite sekolah (SMPN 1 Bogor) waktu itu mengadakan kerjasama dengan Singapura, Malaysia, Australia, Amerika Serikat, China, Jepang dan Hingaria dalam bentuk sister school," katanya.
Salah satu kegiatannya adalah melakukan pertukaran pelajar dan guru dari SMPN I ke megara-negara tersebut atau sebaliknya. Sehingga siswa dan guru mempunyai jejaring bukan hanya secara nasional dan internasional.
"Jadi, sister school itu bukan sekedar tanda tangan MoU, tapi harus ada tindak lanjutnya," tambah Sugeng.
6. Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah, khususnya pemetintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya, harus membangun sarana prasarana sekolah, guru, kepala sekolah dan tenaga pendidikan yang ketersediasnnya dan kualitasnya, serta kualitas non fisiknya seragam untuk setiap sekolah.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat mendukung sister school. Karena kegiatan pertukaran pelajar dan guru, pada akhir pertukaran tersebut ada kegiatan seni budaya lokal daerah tersebut ataupun Indonesia.
"Dengan mendukung kegiatan tersebut, berarti ikut mempromosikan budaya daerah dan Indonesia," ucapnya.
Dengan terciptanya kondisi seperti itu, maka rayonisasi penerimaan murid baru tidak masalah. Namun kalau kondisi antar sekolah berbeda, maka rayonisasi merupakan suatu ketidakadilan.
"Jadi, membangun ekosistem pendidikan bagi pemerintah daerah adalah suatu keniscayaan. Apabila ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas, memiliki kemampuan kreativitas/inovasi dan beretika. Sehingga diharapkan para calon walkkota/bupati membuat program tersebut," pungkas Sugeng. ***



