BOGOR.POJOKSATU.id - Mungkin banyak dari kalian yang tidak tahu jika tak kurang dari 2.000 ton sampah dari Kabupaten Bogor berakhir di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Galuga.
Masuknya 2.000 ton sampah setiap hari ini membuat gunungan sampah semakin tinggi dan menebarkan bau sangat menyengat.
Dan jika tidak segera di tangani, kondisi mengerikan tersebut bisa saja menjadi bencana ledakan sampah hingga membahayakan kesehatan masyarakat sekitar.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Teuku Mulya akhirnya angkat bicara. Ia mengatakan jika harus ada penanganan serius pada TPA Galuga ini.
"Sampah timbunan setiap harinya dengan penanganan sampah yang ada di Galuga itu tidak sebanding. Oleh karena itu harus ada langkah-langkah penanganan," ungkapnya.
Mulya juga menambahkan jika konsep open dumping yang selama ini sudah dijalankan dan berlangsung di TPA Galuga sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
"Konsep Open dumping tidak diperkenankan lagi. Kalau diteruskan, akan merusak lingkungan dan dampaknya besar di kemudian hari," katanya.
Sebagai langkah awal, DLH Kabupaten Bogor mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp17 miliar dalam perubahan APBD tahun ini.
Dana tersebut direncanakan dipakai untuk memulai proses penutupan TPA Galuga menggunakan metode sanitary landfill.
Mekanisme ini meliputi pemasangan membran agar tidak terjadi kebocoran lindi, pengendalian air tanah agar tetap kedap, serta penutupan area secara bertahap. Seluruh tahapan ditargetkan berlangsung hingga tahun 2026.
Namun menurut Mulya, penyelesaian persoalan Galuga tidak hanya sebatas urusan teknis. Ia menilai permasalahan yang mendasar justru terletak pada kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah. ***



