BOGOR.POJOKSATU.id - Sebuah video yang memperlihatkan aksi pemalakan terhadap sopir taksi online di kawasan Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, viral di media sosial dan memicu kemarahan warganet.
Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, terlihat seorang pria memaksa sopir taksi online untuk membayar uang sebesar Rp20 ribu agar bisa memutar arah kendaraan.
Dalam unggahan yang beredar, pengemudi taksi online mengeluhkan tindak pemalakan tersebut. Ia mengaku hanya mendapatkan Rp34 ribu sepanjang hari, namun masih harus menyetor Rp20 ribu kepada preman setempat.
“Meski ada petugas di lokasi, preman tetap memaksa dan sempat terjadi cekcok,” tulis akun yang membagikan video tersebut.
Menanggapi video viral itu, Polres Bogor melalui Polsek Ciawi langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan.
Kapolsek Ciawi AKP Dede Lesmana Jaya membenarkan kejadian tersebut dan memastikan pelaku berhasil ditangkap tidak lama setelah video beredar.
“Pelaku berinisial MNH kami amankan saat sedang membeli gorengan di kawasan Simpang Pasir Muncang, Megamendung,” ujar AKP Dede, Senin (10/11).
Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku diketahui memalak sopir taksi online dengan meminta uang Rp20 ribu, namun korban hanya memberikan Rp15 ribu.
Uang tersebut kemudian digunakan pelaku untuk membeli rokok seharga Rp10 ribu dan kopi Rp5 ribu.
Selain itu, polisi juga mengungkap bahwa dalam sehari pelaku memperoleh Rp115 ribu dari hasil memalak dan menjadi joki pengarah kendaraan di kawasan Gadog menuju Megamendung.
Dari jumlah tersebut, Rp100 ribu didapat dari jasa mengawal mobil wisatawan, sedangkan Rp15 ribu berasal dari pemalakan sopir taksi online.
Kapolsek menegaskan, pihaknya akan menindak tegas segala bentuk pungutan liar dan aksi premanisme, terutama di kawasan jalur wisata Puncak yang kerap ramai oleh wisatawan.
“Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku pemalakan yang meresahkan masyarakat. Polisi akan terus melakukan patroli dan penindakan di titik-titik rawan,” tegas AKP Dede.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa praktik pungli di kawasan wisata masih menjadi persoalan serius yang harus diberantas agar masyarakat, khususnya para sopir dan wisatawan, merasa aman dan nyaman saat melintas di wilayah Bogor. ***



