BOGOR.POJOKSATU.id - Presiden Mahasiswa BEM KM IPB University, Muhammad Abdan Rofi, menyatakan penolakan terhadap keterlibatan kampus dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Abdan, kampus seharusnya tetap fokus pada fungsi utamanya sebagai ruang pendidikan, penelitian, dan pengembangan intelektual, bukan menjadi bagian dari pengelolaan proyek makanan.

“Kampus bukan tempat proyek makanan,” tegasnya.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sehingga keterlibatan langsung dalam pengelolaan dapur MBG dinilai tidak tepat.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pembahasan mengenai kemungkinan keterlibatan kampus dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

Di sisi lain, pihak IPB memiliki pandangan berbeda terkait hal tersebut. Kampus menilai keterlibatan perguruan tinggi justru dapat membantu memastikan program MBG berjalan lebih baik melalui pendekatan berbasis sains, data, serta inovasi di bidang sistem pangan.

Menurut pihak kampus, dukungan akademik diperlukan agar program pemenuhan gizi dapat dirancang secara tepat, efektif, dan berkelanjutan.

Perbedaan pandangan tersebut memunculkan diskusi di kalangan akademisi dan mahasiswa mengenai batas peran perguruan tinggi dalam program-program pemerintah.

Sebagian pihak menilai kampus perlu tetap independen dan fokus pada pendidikan, sementara pihak lain berpendapat keterlibatan akademisi dapat menjadi kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial, termasuk pemenuhan gizi masyarakat.

Polemik terkait pengelolaan dapur MBG di lingkungan kampus pun masih terus menjadi perhatian publik dan memicu beragam respons dari berbagai kalangan.***