POJOKBOGOR.id - Pemerintah Kabupaten Bogor terus berupaya meningkatkan produksi beras, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras masyarakat yang mencapai 526.078 ton per tahun.
Pasalnya, produksi beras lokal dari pertani Kabupaten Bogor, hanya mampu memenuhi 64,30 persen atau 329.000 ton beras dalam setahun. Sehingga masih terjadi defisit pasokan beras lokal.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor Andri Hadian menjelaskan, defisit pasokan sekitar 35 persen itu selama ini ditutupi oleh stok beras milik Bulog, maupun mendatangkan beras dari Cianjur, Karawang dan Purwakarta.
Baca Juga: Banyak Daerah Sulit Bayar Gaji Pegawai, Kabupaten Bogor Masih Damai
Namun, kata Andri, pasokan beras dari Karawang, misalnya ternyata berasal petani Kabupaten Bogor yang dibeli, digiling kemudian dikemas dengan merek mereka lalu dijual ke Kabupaten Bogor.
"Bukan karena harga yang lebih tinggi atau apa, tapi karena dari Karawang mungkin lebih dekat untuk jalur distribusinya," jelas Andri.
Sehingga, Bupati Bogor Rudy Susmanto ingin agar Pemkab Bogor memiliki mesin penggiling gabah menjadi beras atau Rice Miling Unit (RMU).
Baca Juga: Bupati Bogor Percepat Penataan Aset Daerah untuk Perkuat Perencanaan Pembangunan
"RMU nanti disediakan untuk skala besar dan disediakan di sentra produksi beras seperti di Kecamatan Tanjungsari, Cariu, Jonggol maupun Sukamakmur," kata Andri.
Dengan begitu, Pemkab Bogor berharap adanya RMU dapat memotong rantai distribusi padi menjadi beras, memiliki nilai ekonomis bagi petani dan berdampak pada meningkatnya produksi beras lokal Kabupaten Bogor. ***



