POJOKBOGOR.id - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor Burhanudin, mengingatkam seluruh pemangku kebijakan, untuk bersiap menghadapi inflasi pada penghujung tahun 2023.
Menurutnya, penyumbang utama inflasi di Kabupaten Bogor berasal dari naiknya harga pangan, akibat cuaca ekstrem belakangan ini yang menyebabkan produksi pertanian terganggu.
"Belum lagi tekanan geopolitik global juga diprediksi masih memberikan dampak pada tekanan inflasi di tahun ini khususnya dengan harga energi dan disrupsi jalur perdagangan," kata Burhanudian, Kamis (23/11).
Baca Juga: Tiga Kampung di Leuwiliang Bogor Diterjang Banjir dan Tanah Longsor
Menurutnya, untuk menjadi stabilitas ekonomi daerah, memerlukan sinergi dan kolaborasi seluruh stakeholder dalam Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
"Sudah lakukan koordinasi untuk antisipasi gejolak kenaikan harga serta memastikan kebutuhan bahan pokok masyarakat bisa terpenuhi jelang Natal dan tahun baru," kata Burhan.
Baca Juga: Hari Kesehatan Nasional, Pemkab Bogor Komitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan di Pelosok
Burhan mengungkapkan, berdasarkan PMK No.101/PMK.010/2021, pemerintah telah menetapkan sasaran inflasi untuk tahun 2023 sebesar 3,0 persen dengan deviasi kurang lebih 1 persen.
Pada bulan Oktober 2023 tingkat inflasi di Jawa Barat sebesar 0,13 persen secara bulanan dan 2,58% secara tahunan. Adapun untuk Kabupaten Bogor, dengan melihat Sister City IHK Kota Bogor, inflasi di bulan Oktober 2023 sebesar 3,01 persen secara tahunan dan 0,12 persen secara bulanan.
"Meskipun angka-angka ini tidak signifikan melampaui target inflasi nasional namun kita perlu memperhatikan situasi dan kondisi agar angka inflasi dapat terjaga," kata dia. ***



