POJOKBOGOR.id – Tiga unit bus sekolah hibah dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendarat di Kabupaten Bogor.
Tapi jangan buru-buru membayangkan anak-anak sekolah di pelosok sudah bisa terangkut nyaman dengan bus kuning.
Faktanya, tiga bus tersebut tidak dialokasikan khusus untuk pelajar.
Kasi Angkutan Jalan Dishub Kabupaten Bogor, Wartono, mengungkapkan bahwa bus medium berkapasitas 12 orang itu dibagikan ke beberapa pihak.
Satu untuk Pemerintah Daerah (Pemda), satu lagi untuk Majelis Dzikir Doa Anak Yatim di Ciampea, dan satu sisanya untuk Yayasan Asshiddiqiyah di Caringin atau Cijeruk.
“Yang dua itu tertuju ke yayasan. Jadi, setelah diserahkan, tanggung jawab sepenuhnya ada di pihak penerima,” jelas Wartono, Senin (29/9/2025).
Meski begitu, masih ada peluang bus hibah yang kini dikelola Pemda bisa digunakan sebagai armada antar jemput pelajar. Namun waktunya belum sekarang.
“Untuk yang di Pemda itu perlu dianggarkan, mulai dari sopir sampai BBM. Mungkin di 2026 bisa dialokasikan ke wilayah yang belum punya layanan transportasi sekolah, baik di barat maupun timur,” tambahnya.
Sementara itu, rencana menyediakan bus sekolah khusus untuk pelajar Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, yang sempat dijanjikan Bupati Bogor Rudy Susmanto, hingga kini belum juga terealisasi.
Wartono menyebut, usulan itu kemungkinan baru akan masuk anggaran 2026.
“Di Malasari memang perlu layanan mobil sekolah, tapi bukan hanya di sana. Daerah lain seperti Sukamakmur juga banyak pelajar yang belum terlayani karena keterbatasan angkutan,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Rudy tergerak hatinya setelah mengetahui ada tokoh masyarakat di Malasari yang rela menyediakan kendaraan pribadi demi memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah. Dari situlah janji pengadaan bus sekolah muncul.
Kini, masyarakat menunggu apakah janji itu bisa benar-benar diwujudkan.
Karena bagi pelajar di pelosok Bogor, bus sekolah bukan sekadar fasilitas, melainkan juga jembatan menuju masa depan.




