POJOKBOGOR.id - PT Antam Tbk melalui Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor menerjunkan tim untuk membantu proses evakuasi korban dalam insiden munculnya asap tebal di kawasan tambang emas Blok Cepu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
Insiden ini terjadi sejak Selasa, 13 Januari 2026, dan hingga kini masih menyisakan kekhawatiran.
Sedikitnya enam warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, dilaporkan masih terjebak di dalam lubang tambang.
Meski lokasi kejadian bukan berada di wilayah tambang milik Antam, akses menuju titik tersebut dapat dijangkau melalui area operasional perusahaan.
Java Region, CSR and Sub Division Head PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Agustinus Toko Susetio, mengatakan pihaknya bersama aparat gabungan terus berupaya melakukan evakuasi.
Namun, proses tersebut belum berjalan maksimal karena kondisi asap di dalam terowongan masih sangat tebal.
“Kami mendapat informasi adanya warga yang terjebak di area tambang. Bukan area tambang kami, tetapi bisa dijangkau dari area kami,” ujarnya.
Menurut Agustinus, pihak perusahaan juga telah berkoordinasi dengan masyarakat Desa Urug untuk mempercepat proses penyelamatan.
Langkah tersebut dilakukan murni atas dasar kemanusiaan.
“Atas dasar kemanusiaan, kami membantu proses evakuasi dibantu pihak-pihak terkait dan juga masyarakat,” jelasnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti munculnya asap belum dapat dipastikan.
Namun, dugaan sementara mengarah pada terbakarnya kayu penyangga bebatuan di dalam lubang tambang.
Antam menyatakan masih menunggu hasil penyelidikan aparat terkait.
Di tengah upaya evakuasi, Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Adian Napitupulu, turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi di lapangan.
Kunjungan ini dilakukan menyusul laporan meninggalnya enam warga serta hilangnya sejumlah warga lainnya.
Adian menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya enam warga Desa Bangun Jaya, Kecamatan Cigudeg, yakni Firman, Asri, Soni, Barok, Deni, dan Adun.
Para korban diketahui beraktivitas sebagai gurandil dan diduga meninggal dunia akibat kehabisan oksigen setelah terpapar asap putih di dalam terowongan.
Selain korban meninggal, masih ada sejumlah warga yang dilaporkan belum ditemukan.
Berdasarkan laporan masyarakat, mereka adalah Jaka, Edi, Isep, Septiana, Akim, Aji Pangestu, dan Adam.
Sebelumnya, sekitar seribu warga Desa Urug mendatangi Kantor Desa untuk menyampaikan aspirasi dan pengaduan atas peristiwa tersebut kepada Adian bersama Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Doni Hutabarat.
Dalam pertemuan itu dipastikan seluruh korban berasal dari Desa Urug dan wilayah sekitarnya.
Usai menerima aspirasi, Adian langsung menuju lokasi sumber asap putih yang menutup jalur terowongan tambang.
Ia menyebut kondisi di dalam lubang sangat berbahaya.
“Kalau kita mendekat ke lokasi, kondisinya mirip asap fogging, tapi jumlahnya sangat banyak dan berbahaya,” ungkapnya.
Adian pun meminta tim rescue PT Antam untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dalam pencarian dan evakuasi warga yang belum ditemukan, dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Terlepas dari status mereka, ini adalah manusia. Ini soal kemanusiaan dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” tegasnya.
Hingga Kamis malam, proses penelusuran masih terus berlangsung meski terkendala keterbatasan oksigen di dalam terowongan.
Berdasarkan keterangan rekan-rekan korban, warga yang belum ditemukan diduga masih berada di bagian atas lubang tambang.




