BOGOR.POJOKSATU.id - Pemerintah Kota Bogor terus berusaha melanjutkan pembangunan jalan R3 sebagai solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan panjang di kawasan Tajur dan sekitarnya.

Dalam peninjauannya tersebut, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim memastikan dibangunnya betonisasi di jalan sepanjang 350 meter dari Katulampa Bulet sampai dengan Katulampa Ciliwung dan akan dikerjakan tahun ini.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyampaikan bahwa tahun ini Pemerintah Kota Bogor akan melanjutkan proses betonisasi Jalan R3 sepanjang sekitar 350 meter. Sementara pada tahun mendatang, pengerjaan ditargetkan bisa diteruskan hingga mencapai area Jembatan Ciliwung.

Selain fokus pada betonisasi, pemerintah juga secara bertahap terus melaksanakan proses pembebasan lahan, terutama pada jalur yang menghubungkan wilayah Sindangrasa hingga Wangun-Tugu Kuntum.

Dedie menjelaskan bahwa lahan yang belum dibebaskan masih mencakup luas sekitar 1,47 hektare dan terdiri dari sejumlah bidang tanah. Ia berharap kondisi keuangan daerah tetap stabil agar anggaran pembebasan lahan tersebut bisa segera dialokasikan.

Dedie menekankan pentingnya keberadaan Jalan R3 sebagai jalur strategis untuk meningkatkan mobilitas masyarakat serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Kota Bogor.

Jalan ini juga dinilai dapat menjadi solusi alternatif bagi kendaraan dari arah Puncak dan Sukabumi, agar tidak perlu lagi melalui jalur padat di kawasan Tajur dan Pajajaran.

“Kalau proyek ini selesai, lalu lintas di Tajur yang selama ini langsung terhubung ke Pajajaran bisa kita kurangi. Kendaraan dari Puncak atau Sukabumi bisa langsung diarahkan ke Warung Jambu tanpa harus melewati Sisesa,” jelasnya.

Selain jalur utama, Dedie juga menyoroti pembangunan jembatan dua lajur yang akan melintasi Sungai Ciliwung. Jembatan tersebut diproyeksikan memiliki lebar 32 meter dengan bentangan lebih dari 60 meter.

Ia mengakui bahwa pembangunan ini akan membutuhkan anggaran yang cukup besar, sehingga saat ini pihaknya tengah melakukan evaluasi ulang terhadap Detail Engineering Design (DED) proyek tersebut.

Jika DED telah rampung, Dedie berencana untuk segera mengajukan rekomendasi teknis dari Kementerian PUPR, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Ia berharap pemerintah pusat dapat turut memberikan dukungan pembiayaan, namun menegaskan bahwa seluruh persyaratan teknis dan administrasi akan diselesaikan terlebih dahulu sebelum pengajuan dana dilakukan.

“Kita ikhtiarkan, siapa tahu bisa dibantu oleh pemerintah pusat. Tapi prioritasnya adalah menuntaskan dokumen administrasi dan teknis terlebih dulu, baru kemudian kita ajukan untuk memperoleh anggaran,” tutup Dedie. ***