BOGOR.POJOKSATU.id - Memasuki puncak musim hujan, sejumlah wilayah di Kota dan Kabupaten Bogor kembali masuk dalam sorotan karena tingginya potensi longsor.

Intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir membuat wilayah dengan topografi berbukit dan lereng curam menjadi semakin rentan terdampak bencana.

Berdasarkan berbagai kajian dan pemetaan resmi, sebagian besar area Bogor — terutama di bagian selatan dan wilayah pegunungan — termasuk dalam zona rawan longsor yang perlu diwaspadai.

Di wilayah Kota Bogor, penelitian menunjukkan bahwa dari total luas sekitar 11 ribu hektare, terdapat lebih dari 380 hektare yang tergolong sebagai kawasan dengan kerawanan longsor tinggi.

Kawasan ini umumnya berada di wilayah selatan, yang secara kontur merupakan daerah berbukit dan banyak lereng terjal.

Beberapa kelurahan yang masuk zona rawan antara lain Cikaret, Empang, Bondongan, Batutulis, Pamoyanan, Cipaku, Genteng, Muarasari, Lawanggintung, Harjasari, Rancamaya, Bojongkerta, Mulyaharja, hingga Pakuan. Selain wilayah selatan, sejumlah titik di Kecamatan Bogor Barat juga tercatat memiliki tingkat risiko longsor dan banjir cukup tinggi.

Sementara itu, kondisi di Kabupaten Bogor bahkan lebih kompleks. Dengan luas wilayah yang didominasi pegunungan dan perbukitan, Kabupaten Bogor memiliki tingkat kerawanan longsor yang jauh lebih besar.

Berdasarkan pemetaan terbaru BPBD, 26 dari 40 kecamatan masuk dalam kategori rawan longsor, baik tingkat sedang maupun tinggi.

Beberapa kecamatan yang sering mengalami kejadian longsor termasuk Pamijahan, Cisarua, Sukamakmur, Cileungsi, Citeureup, Ciawi, hingga Bojonggede.

Sebagian kawasan ini berada di daerah hulu sungai dan zona tangkapan air, sehingga ketika curah hujan mencapai puncaknya, risiko longsor dan banjir bandang meningkat signifikan.

Topografi yang bergelombang, kepadatan permukiman, serta kondisi tanah yang labil membuat banyak wilayah Bogor membutuhkan perhatian serius.

Di beberapa titik, pergerakan tanah bahkan dapat terjadi tanpa hujan ekstrem, terutama jika tanah sudah jenuh akibat hujan berhari-hari.

Tak heran, mitigasi bencana dan kewaspadaan warga menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko.

Dengan potensi bencana yang tinggi ini, masyarakat yang tinggal di daerah rawan disarankan untuk selalu memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, PVMBG, maupun BPBD.

Warga juga diminta mengantisipasi tanda-tanda awal pergerakan tanah seperti retakan pada tembok, pintu sulit dibuka, atau perubahan permukaan tanah di sekitar rumah.

Pemerintah daerah pun kembali mengingatkan pentingnya menjaga drainase lingkungan, tidak membangun rumah di lereng curam, serta menghindari aktivitas yang dapat memperlemah struktur tanah seperti penebangan pohon sembarangan.

Tingginya curah hujan selama musim hujan tahun ini membuat risiko longsor di Bogor meningkat.

Dengan memahami daerah-daerah rawan dan meningkatkan kewaspadaan, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi bencana serta meminimalisasi dampaknya. ***