BOGOR.POJOKSATU.id - Metode perbaikan jalan dengan tambal sulam aspal di sejumlah ruas jalan kabupaten di Bogor, salah satunya di Jalan Hj. Usa, Kecamatan Ciseeng, menuai sorotan. Pasalnya, cara tersebut dinilai tidak efektif karena kerusakan sering kembali muncul dalam waktu relatif singkat.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tambalan aspal yang diterapkan di atas permukaan jalan beton atau rigid pavement rata-rata hanya mampu bertahan sekitar tiga bulan. Setelah itu, permukaan jalan kembali retak dan berlubang sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.
Sejumlah pihak menilai metode tersebut kurang tepat jika dilihat dari sisi teknik sipil. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakter material antara beton dan aspal.
Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah reflective cracking, yakni retakan pada lapisan aspal yang mengikuti pola retakan beton di bawahnya. Kondisi ini terjadi karena aspal memiliki sifat lentur, sementara beton bersifat kaku.
Selain itu, terdapat pula masalah kegagalan adhesi, yaitu kondisi ketika lapisan aspal tidak dapat menempel secara optimal pada permukaan beton. Situasi ini semakin cepat terjadi pada ruas jalan yang sering dilalui kendaraan berat seperti truk bermuatan besar.
“Tambalan aspal di atas beton memang tidak bertahan lama. Aspal yang lebih lentur akan mengikuti retakan beton di bawahnya, sehingga kerusakan cepat muncul kembali,” ujar salah seorang pemerhati infrastruktur.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sejumlah pihak mendorong pemerintah daerah menerapkan metode perbaikan yang lebih permanen. Salah satu solusi yang diusulkan adalah Full Depth Repair, yakni membongkar panel beton yang rusak secara menyeluruh sebelum dilakukan pengecoran ulang.
Dengan metode ini, panel beton yang mengalami kerusakan dapat dibongkar per segmen, misalnya setiap tiga meter, kemudian diganti dengan beton baru yang lebih kuat.
Selain itu, penggunaan beton dengan mutu FS 4,5 MPa dinilai lebih mampu menahan beban gandar kendaraan berat yang sering melintas di jalur tersebut.
Teknologi fast track concrete juga disebut dapat menjadi alternatif agar proses perbaikan tidak terlalu lama mengganggu aktivitas masyarakat. Dengan teknologi ini, jalan yang diperbaiki dapat kembali digunakan dalam waktu sekitar 24 jam.
Menurut sejumlah pihak, keterbatasan anggaran seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas pembangunan infrastruktur jalan.
“Efisiensi anggaran seharusnya dilakukan pada belanja operasional atau kegiatan seremonial, bukan pada kualitas jalan yang digunakan masyarakat setiap hari,” ujarnya.
Masyarakat pun berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi perbaikan yang lebih kuat dan tahan lama serta tidak hanya fokus pada mempercantik wilayah Cibinong saja.
Jalan beton yang permanen dinilai jauh lebih aman dibandingkan tambalan aspal yang cepat rusak dan berpotensi membahayakan pengguna jalan. ***



