BOGOR.POJOKSATU.id - PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana menutup permanen 15 perlintasan liar di wilayah Bogor dalam waktu dekat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api sekaligus mengurangi risiko kecelakaan di titik-titik perlintasan ilegal yang selama ini masih digunakan masyarakat.
KAI menilai sebagian besar perlintasan liar tersebut sangat berbahaya karena tidak dilengkapi palang pintu, penjaga, maupun sistem pengamanan standar.
“Penutupan dilakukan demi keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan,” ujar pihak KAI.
Berikut daftar 15 titik perlintasan liar di Bogor yang ditargetkan akan ditutup permanen:
KM 48+2/3 lintas Cilebut–Bogor, Kampung Pledang
KM 49+512 lintas Cilebut–Bogor, Gang Blok Asem
KM 51+7/8 lintas Nambo–Badak, Jalan Klapa Nunggal
KM 50+2/3 lintas Cilejit–Daru, Desa Mekarsari
KM 53+285 lintas Daru–Tenjo, Raya Cilaku
KM 46+172 lintas Bojonggede–Cilebut, Sipatahuanan
KM 42+265 lintas Citayam–Bojonggede, kawasan Dodol
KM 56+202 lintas Tenjo–Tigaraksa, Kampung Sukalikat
KM 45+254 lintas Bojonggede–Cilebut
KM 41+550 lintas Citayam–Bojonggede, Gang Paseban
KM 49+178 lintas Cilejit–Daru, Kampung Lame
KM 50+164 lintas Cilebut–Bogor, Tugu Wates
KM 49+296 lintas Cilebut–Bogor, Gang Mesjid
KM 40+490 lintas Citayam–Bojonggede, Gang Jamal
KM 16+269 lintas Maseng–Cigombong, kawasan Slawi
KAI menyebut keberadaan perlintasan liar menjadi salah satu penyebab tingginya potensi kecelakaan karena banyak warga melintas tanpa sistem pengamanan memadai, sementara frekuensi perjalanan kereta terus meningkat setiap tahun.
Meski demikian, rencana penutupan ini juga memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat sekitar rel. Banyak warga mengaku akses harian mereka akan menjadi lebih jauh dan sulit jika perlintasan tersebut benar-benar ditutup permanen.
Beberapa warga berharap pemerintah dan KAI turut menyiapkan solusi alternatif seperti pembangunan jalan penghubung, underpass, atau akses resmi yang lebih aman agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.
“Kalau ditutup total, warga harus muter jauh. Semoga ada solusi akses pengganti,” ujar salah satu warga sekitar perlintasan.
Penutupan perlintasan liar sendiri menjadi bagian dari program nasional peningkatan keselamatan perkeretaapian yang terus didorong pemerintah di berbagai daerah.***



