POJOKBOGOR.id - Kegiatan belajar di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, mendadak kacau pada Rabu (10/9/2025) pagi.
Sekitar pukul 09.00 WIB, atap empat ruang kelas dan satu aula ambruk ketika pelajaran tengah berlangsung.
Kepala SMKN 1 Cileungsi, Meisye Yeti, menuturkan bangunan sekolah sebenarnya sudah pernah diperiksa jauh sebelum insiden.
Ia mengaku sejak 2023 telah mengajukan surat ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk meminta penilaian teknis.
Tim PUPR bahkan sempat turun ke lapangan dan memberikan rekomendasi.
“Itu sudah saya sampaikan juga ke dinas, agar bisa diprioritaskan dalam program revitalisasi lewat DAK (Dana Alokasi Khusus). Tapi kendalanya memang ada di anggaran,” jelas Meisye.
Menurutnya, dana BOS tidak bisa digunakan untuk memperbaiki kerusakan sedang hingga berat, melainkan hanya pemeliharaan ringan.
Kini, pasca insiden, sekolah mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring hingga Jumat.
“Kami sudah koordinasi dengan Dinas Pendidikan Jabar. Sementara daring dulu, tapi saya tetap berharap anak-anak bisa segera kembali tatap muka di sekolah,” katanya.
Sementara itu, Camat Cileungsi, Adi Henryana, menjelaskan setidaknya 36 orang yang terdiri dari siswa dan guru mengalami luka-luka.
Sebagian besar korban tertimpa genteng dan rangka baja ringan.
“Update sekarang hampir semua korban sudah pulang. Tinggal enam orang yang masih menunggu giliran rontgen tangan,” ujarnya.
Korban dengan luka kepala yang membutuhkan jahitan pun sudah mendapat perawatan, termasuk dua guru yang kini diperbolehkan pulang.
Pemerintah Kabupaten Bogor memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung.
“Untuk semua biaya korban ditanggung Pemkab Bogor. Jumlahnya hampir 36 orang luka,” kata Adi.
Insiden ini juga mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia langsung menginstruksikan seluruh kepala SMA dan SMK di Jawa Barat untuk melakukan pemeriksaan bangunan sekolah masing-masing.
“Segera laporkan kondisi sekolah yang berpotensi roboh atau dibangun asal-asalan. Jangan sampai ada lagi sekolah yang atapnya ambruk,” tegasnya.
Padahal, bangunan SMKN 1 Cileungsi sendiri baru berdiri pada 2016. Namun, dugaan sementara mengarah pada kualitas konstruksi yang kurang maksimal.
Dedi menekankan pentingnya langkah preventif.
“Ini bagian dari tugas kita sebagai pemerintah, memastikan anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman di sekolah yang berkualitas,” ujarnya.




