BOGOR.POJOKSATU.id – Bogor selama puluhan tahun dikenal sebagai Kota Hujan dengan udara yang sejuk dan nyaman. Namun belakangan ini, banyak warga mulai merasakan perubahan.

Suhu udara di Bogor dinilai tidak lagi sedingin dulu, bahkan pada siang hari terasa lebih panas dibanding beberapa tahun lalu.

Fenomena tersebut ternyata bukan sekadar perasaan masyarakat. Menurut Dr. Givo Alsepan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, ada sejumlah faktor yang menyebabkan suhu udara di Bogor terus mengalami peningkatan.

Salah satu penyebabnya adalah fenomena El Niño, yaitu kondisi iklim yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Bogor.

Berkurangnya hujan membuat udara menjadi lebih kering sehingga suhu pada siang hari terasa lebih tinggi. Selain itu, perubahan iklim global juga memberikan dampak yang signifikan.

Kenaikan suhu rata-rata bumi yang telah berlangsung sejak sekitar tahun 1990 membuat berbagai daerah mengalami peningkatan temperatur, termasuk kawasan yang sebelumnya dikenal berhawa sejuk seperti Bogor.

Tidak hanya dipengaruhi faktor global, perubahan wajah Kota Bogor juga ikut berperan.

Pertumbuhan pembangunan, bertambahnya kawasan permukiman, gedung, jalan raya, serta berkurangnya ruang terbuka hijau memicu munculnya fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.

Fenomena ini terjadi ketika permukaan beton, aspal, dan bangunan menyerap panas matahari pada siang hari lalu melepaskannya kembali ke lingkungan. Akibatnya, suhu di kawasan perkotaan menjadi lebih tinggi dibanding wilayah yang masih didominasi vegetasi.

Menurut Dr. Givo, kombinasi antara perubahan iklim, El Niño, dan pesatnya pembangunan menjadi alasan mengapa masyarakat kini merasakan Bogor semakin panas dibanding masa lalu.

"Peningkatan suhu udara di Bogor dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari fenomena El Niño yang mengurangi curah hujan, perubahan iklim global yang terus meningkatkan suhu sejak sekitar tahun 1990, hingga pesatnya pembangunan yang memicu fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan," ujar Dr. Givo Alsepan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Meski demikian, para ahli menilai dampak tersebut masih dapat ditekan melalui berbagai upaya, seperti memperbanyak ruang terbuka hijau, menjaga kawasan resapan air, menanam pohon, serta mengendalikan pembangunan agar tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan karakter Bogor sebagai kota yang nyaman dan memiliki kualitas udara yang baik dapat terus dipertahankan di tengah tantangan perubahan iklim.***