BOGOR.POJOKSATU.id - Krisis pengelolaan sampah kini merambah lintas wilayah, setelah pengiriman sampah ke Serang mendapat penolakan warga, Kota Tangerang Selatan terpaksa mengalihkan pembuangan sampah ke wilayah Cileungsi.
Kondisi ini membuat persoalan sampah tak lagi bersifat lokal, melainkan berdampak ke daerah lain. Pemerintah Kota Tangerang Selatan pun harus segera mencari opsi darurat agar sampah tidak menumpuk di dalam kota.
Pengiriman sampah Tangsel ke wilayah Serang dihentikan setelah mendapat penolakan dari warga setempat. Akibatnya, Pemkot Tangsel harus segera menyiapkan lokasi alternatif pembuangan.
Sebagai langkah sementara, Pemkot Tangsel merencanakan pengiriman sekitar 200 ton sampah per hari ke wilayah Kabupaten Bogor, tepatnya di kawasan Cileungsi.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat darurat dan tidak akan berlangsung lama.
“Ini langkah sementara, sekitar dua minggu. Kami tidak ingin membebani daerah lain dalam jangka panjang,” ujar Benyamin.
Ia menambahkan, langkah tersebut diambil demi mencegah penumpukan sampah yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan di wilayah Tangsel.
Benyamin memastikan bahwa Pemkot Tangsel terus bekerja mencari solusi jangka panjang. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah sedang dilakukan agar ke depan Tangsel bisa lebih mandiri dan tidak bergantung pada daerah lain.
“Kami terus melakukan evaluasi dan pembenahan sistem pengelolaan sampah. Ke depan, Tangsel harus punya solusi yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Rencana pengalihan sampah ke Bogor pun menjadi perhatian masyarakat. Warga berharap pengiriman dilakukan dengan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan dampak lingkungan di wilayah tujuan.
Krisis ini kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antar daerah serta percepatan inovasi pengelolaan sampah, mulai dari pengurangan di sumber hingga pengolahan berbasis teknologi ramah lingkungan. ***



