POJOKBOGOR.id – Program Taman B2SA yang terintegrasi dengan aplikasi Ngupahan milik Pemerintah Kabupaten Bogor, mendorong peningkatan konsumsi sayur masyarakat hingga 45 persen dalam satu tahun terakhir, berdasarkan hasil monitoring.
Peningkatan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika, pada penjurian TOP 5 Integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) 2025 di Graha Surveyor Indonesia, Jakarta, Senin 17 November 2025.
“Porsi sayur per makan naik dari tiga sendok menjadi empat sendok,” jelas Ajat dalam pemaparan inovasi pengembangan ekosistem ketahanan pangan berkelanjutan melalui Taman B2SA digital terintegrasi aplikasi Ngupahan.
Baca Juga: Pemkot Bogor Mulai Geser Kendaraan Dinas ke Listrik, Dorong Transportasi Ramah Lingkungan
Ia menjelaskan, konsumsi sayur harian warga meningkat dari rata-rata 132 gram menjadi 192 gram atau naik sekitar 45 persen. Kenaikan juga terlihat pada konsumsi mingguan yang bertambah dari 92 sendok makan menjadi 134 sendok makan.
Peningkatan tersebut didorong peran Taman B2SA sebagai pusat edukasi gizi, budidaya pekarangan, dan praktik penerapan pola makan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).
Taman itu tersebar di 40 kecamatan dan mulai diperluas melalui posyandu serta Kampung Ramah Lingkungan.
Baca Juga: Kapan Ya Jalan MA Salmun Bogor Bebas Dari Pasar Liar Hingga Angkot Ngetem?
Integrasi aplikasi Ngupahan turut memperkuat perubahan perilaku konsumsi. Aplikasi yang merupakan singkatan dari Ngabagi, Ngubah dan Ngurai Sampah Makanan tersebut menyediakan fitur Piring Berbagi, Bank Komposter, Berdikari Mart dan Pojok Edukasi.
Melalui Piring Berbagi, warga dapat berbagi pangan sehat berbasis lokasi terdekat. Sedangkan fitur edukasi memberi panduan praktik konsumsi bergizi dan pengurangan sampah makanan rumah tangga.
Data pemerintah menunjukkan 91,79 persen masyarakat yang terlibat kini teredukasi pola hidup sehat. Budidaya sayur organik di pekarangan juga membantu meningkatkan ketersediaan bahan pangan langsung di tingkat rumah tangga.
Ajat menjelaskan program itu memberi dampak signifikan terhadap pengurangan sampah makanan. Dari rata-rata 3.000 ton sampah harian di Kabupaten Bogor, sampah pangan yang masuk tempat pembuangan akhir kini tinggal sekitar empat persen.
Selain itu, food waste rumah tangga turun hingga 55 persen berkat mekanisme pengumpulan sampah organik dan pemanfaatannya menjadi kompos melalui bank komposter yang dioperasikan komunitas.
“Program ini bukan hanya meningkatkan konsumsi pangan bergizi, tetapi juga mengurangi potensi sampah dan mendukung kemandirian pangan keluarga,” ujar Ajat.
Program B2SA–Ngupahan juga memberi kontribusi terhadap upaya pencegahan stunting dan penguatan diversifikasi pangan keluarga.
Pemerintah menargetkan perluasan implementasi pada 2026 dengan memperbesar jumlah Taman B2SA dan peningkatan partisipasi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Bogor menilai integrasi edukasi gizi dan teknologi digital ini menjadi solusi efektif bagi wilayah dengan luas geografis besar dan jumlah penduduk mencapai enam juta jiwa. ***



