POJOKBOGOR.id - Sejumlah pabrik penggilingan beras di Kabupaten Bogor milik warga terpaksa berhenti beroperasi karena tidak ada lagi suplai gabah dari petani.

Tutupnya penggilingan beras di Kabupaten Bogor semakin mempersulit masalah mahalnya harga beras saat ini.

Selain karena belum memasuki musim panen di wilayah itu, penggilingan beras di Kabupaten Bogor tutup karena harga gabah dari petani luar daerah juga terbilang sangat mahal.

Baca Juga: Agromaritim Outlook 2024: Sektor Agromaritim Cerah Butuh Strategi Jitu

Salah satu tempat penggilingan padi milik warga di Desa Cipeucang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, sudah tidak beroperasi lagi selama hampir 4 bulan terakhir.

Padahal, di tempat itu, awal tahun lalu, dipenuhi stok gabah dan beras dari petani setempat.

Pemilik penggilingan beras di Kabupaten Bogor mengaku, tidak ada lagi suplai gabah yang bisa dibeli dari petani di sekitar wilayah ini.

Baca Juga: Penerimaan PPPK Segera Dibuka, Pemkab Bogor Usulkan 2.235 Formasi

Selain karena perubahan waktu masa tanam akibat anomali cuaca, harga gabah dari luar daerah Bogor, terlalu mahal untuk dibeli.

Satu kuintal gabah saat ini harganya mencapai Rp 1 juta dari harga Rp 400.000 saat normal.

Kalaupun ada gabah dari petani yang masuk ke penggilingan, biasanya tidak untuk dijual, tetapi hanya untuk dikonsumsi.

Pemilik penggilingan hanya mendapat biaya giling.

Baca Juga: Golkar Dapat Dua Kursi DPR RI Dapil V Jabar di Rapat Pleno 24 Kecamatan, Demokrat Tersingkir dan PPP Waspada

"Kalau beli padi off dulu, cuma melayani yang dari petani karena tidak ada yang masuk. Tidak ada panen sudah 4 bulan ini yang terpanjang pacekliknya. Sudah 17 tahun tetapi baru kali ini susah banget rasanya. Biasanya normal saja, bahkan penuh stoknya di gudang," ujar pemilik penggilingan beras di Kabupaten Bogor, Ajum.

Menurut pemilik penggilingan beras di Kabupaten Bogor itu, banyaknya lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi perumahan makin memperburuk keadaan.